SEAKAR
ASA DI KAKI RINJANI
Oleh:
Bunda Aghi
Maret, 2014 silam adalah pengakuan yang membanggakan bagi sebagian kami
atas keluarnya SK penempatan CPNS di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Secarik
kertas itu bagaikan prestasi hidup yang tinggi bagi sebagian masyarakat Lombok.
Namun, rasa bangga itu memudar berganti rasa kecewa dan putus asa saat membaca
tempat tugas di SDN 6 Akar-Akar yang termasuk daerah terpencil.
Kecamatan Bayan yang paling timur melewati pesisir panjang pulau Lombok
bagian utara. Tepatnya di bawah kaki gunung Rinjani, dusun Pawang Tenun, Desa
Akar-Akar. Pawang artinya hutan. Tak terbayang, bagi seorang pemula dan guru
wanita seperti saya akan menelusuri dua hutan menanjak, menyebrangi sungai,
serta menjajaki sawah dan kebun. Tanah merah yang halus tak akan pernah
bersahabat ketika musim panas yang akan menjelma menjadi debu bak tepung halus.
Sedang saat hujan, akan berubah menjadi lumpur lincin. Ditambah lagi, saat itu saya sedang hamil. Butuh waktu sejam untuk melewati jalan rusak di tengah hutan sepanjang 1,5 kilo kalau ditempuh dengan jalan kaki saat hamil tua. Tapi apa mau dikata, saat Ibu pertiwi memanggil untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi anak-anak gunung yang termarjinalkan. Bagaimana tidak, siswa jarang mandi, menggosok gigi, dan berpakaian seragam rapi kalau ke sekolah.
![]() |
| Suasana belajar di kaki Rinjani |
![]() |
| Asyik bermain permainan tradisional |
Meski di kaki gunung yang subur, tapi air bagai barang langka. Lebih
baik berbagi beras daripada air, begitu celoteh warga. Jika dibagikan seragam,
mungkin bau tokonya bertahan sehari, setelah itu akan menempel bau keringat dan
bermunculan noda coklat terkena tanah. Maklum, sepulang sekolah mereka
rata-rata akan melewati sungai dan bekerja mencarikan rumput untuk dijual, atau
membantu warga untuk mengumpulkan hasil panen saat melewati kebun. Upahnya itu
mereka gunakan untuk uang jajan. Apalagi kalau sudah musim panen puncak sudah
tiba, jangan harap siswa akan masuk semua. Mereka akan ikut ke kebun bersama
orang tua. Ya, sedikit menyalahkan orang tua yang menyampingkan pendidikan. Tak
hanya itu, pada saat jadwal posyandu, banyak siswi yang menggantikan peran
ibunya untuk menimbang
adik mereka. Ibunya, ya tetap di ladang.
Hal yang miris adalah, saat acara adat yang paling diagungkan bagi
mereka. Saat itulah, warga berpakaian indah, merias diri, hanya sekedar untuk
berkumpul dalam pesta adat. Sekolah, tak usah ragu untuk bolos. Untuk berpesta,
rupa ternak dan hasil bumi dihamburkan, tapi untuk pendidikan, uang saku jarang
di kantong.
Tentu, mereka tak bisa disalahkan. Semasih mau dirubah, tentu ada jalan pikirku.
Hal ini harus dimulai dengan pendidikan yang harus ditanamkan dengan kuat.
Butuh waktu lama dan proses panjang. Tahapan pertama, dimulai dari upgrading guru yang menjadi panutan
siswa. Di sekolah kami, 8 dari 11 gurunya tak ada yang sesuai ijazahnya dengan
pelajaran yang diampunya. Cukup strata satu dari segala jurusan dapat honor di
sana. Meski hasil kebun melimpah ruah, dengan komoditas utama kopi dan coklat,
tapi tetap saja mereka dalam kesederhanaan. Belum ada yang mau berbenah untuk
memfasilitasi pengembangan diri mereka dengan teknologi. Sekedar telepon
seluler untuk bercakap, mengirim pesan, dan memutar lagu.
![]() |
| gotong royong dengan para guru di sekolah |
Perlahan, saya mulai perlihatkan kecanggihan telepon pintar yang mudah
digunakan. Mulai dari media sosial,
browsing, berita online, dan fitur-fitur yang menarik. Tak lupa, saya sodorkan laptop
untuk mereka belajar. Beberapa lama kemudian, di antara mereka, bahkan kepala
sekolah sendiri mulai membeli laptop, dan tak malu untuk belajar bersama.
Pernah, saya sindir salah satu rekan kerja. “Pak, kalau sekelas Bapak ya, tidak
perlu mengumpulkan gaji honor. Dengan mengumpulkan hasil panen mangga saja
sudah bisa membeli laptop yang lebih bagus dari saya,” sindir saya dalam canda.
“Ah ibu, bisa aja. Kalo saya beli percuma, nanti saya gak bisa makenya,” imbuhnya pesimis. Esoknya, saya bawakan tas laptop,
sembari berpesan, “Pak, ini ada tas. Tolong besok diisi laptop ya!” Tak sampai
berbulan-bulan mereka berlomba-lomba melengkapi kebutuhan tersier guna
menunjang diri dalam berprofesi sebagai guru. Tujuan saya semata-mata bukan
untuk menyebarkan hedonisme, tapi membuka paradigma bahwa seorang guru harus
menghargai profesinya sendiri. Guru senantiasa melakukan pengembangan dirinya
terutama agar tidak terjangkit penyakit gagap teknologi.
Setahun lamanya mengajar di daerah terpencil, saya belum mendapatkan
hasil yang produktif. Masih banyak hal yang harus dibenahi. Sekolah yang subur
tentunya akan bisa diandalkan untuk perlahan-lahan membangun sekolah. Kami
menggagas program Sabtu Menanam. Mendayagunakan setiap meter kebun sekolah
untuk menanam buah, apotik hidup, dan juga pepohonan untuk pakan ternak. Tak
diduga pula, di tengah keterpencilan kami, ternyata kami mampu menunjukkan
taring dalam berkompetisi mengikuti lomba di tingkat gugus pada bulan Oktober
2015. Sekolah kami mengantongi juara 1 untuk pelajaran Matematika, juara 2
untuk pelajaran IPA, dan juara 3 untuk calistung kelas 1 dan 2. Anak-anak
pedalaman mengalahkan anak pinggiran dari 8 sekolah.
Untungnya, pemerintah juga mulai menjulurkan bantuan dengan berbagai
program yang masuk ke sekolah sekaligus ke dusun. Di antaranya penambahan kuota
listrik, sehingga sekolah memiliki standmeter sendiri. Untuk irigasi, sudah
dibenahi perpipaan melalui program Pamsimas. Untuk kesehatan, kami sangat berterima
kasih pada puskesmas setempat yang secara rutin memberikan suntikan bias dan
pengarahan mengenai pola hidup bersih kepada siswa. Hanya saja, yang kami
sayangkan adalah pengawasan langsung dari pihak Dinas Pendidikan yang jarang
melihat keadaan kami di sekolah. Sekolah kami tak pernah diperhitungkan untuk
dijadikan tuan rumah untuk rapat gugus, apalagi rapat berkala kepala sekolah.
Dalihnya karena medan yang yang berat dilalui.
Sungguh, kami udah mulai bangga dengan perkembangan sekolah dari segi
fisik dan kemampuan sebagian kecil siswa, tapi tak berani berpuas hati.
Perlahan-lahan siswa mulai menata diri pula. Dari segi penampilan, sikap, dan
bahasa sehari-hari. Apalagi, semenjak saya mengikuti salah satu program
pengembangan diri untuk guru SD dari SGI dalam program School of Master Teacher (SMT), hasilnya sungguh sangat berkesan pada
siswa. Mulai dari menejemen kelas yang menjadi magnet siswa agar nyaman dalam
belajar. Metode pembelajaran yang nonceramah. Tembok kelas tak lagi gundul.
Banyak display (pajangan) yang
menghias dinding, mulai dari display
materi, hiasan kelas, catatan prestasi, identitas siswa, bahkan balon udara
yang akan membawa siswa meraih cita-cita mereka. Setiap aksi tepukan dan
gerakan juga memberikan motivasi dalam belajar. Kerja sama dan kekompakan
senantiasa dibangun. Hal yang paling mereka banggakan, adalah julukan saya pada
mereka; Laskar Rinjani. Dengan lantang mereka menjawab, “Siap, semangat,
santai.” Jawaban lantang disertai gerakan hormat untuk kata siap, tangan kuat
yang dikepal untuk kata semangat, dan kedua telapak tangan yang terbuka ringan
untuk kata santai.
Keceriaan dan rasa malas perlahan-lahan mulai hilang, meski ada beberapa
siswa yang masih belum mau keluar dari pengaruh adat. Sesekali saya sindir
mereka melalui dongeng di saat jam imtaq hari Jumat dan jadwal pengembangan
diri di hari Sabtu. Kadang saya berperan menjadi raja dan mereka adalah
tentara. Pernah pula, saya menjadi wasit dan mereka adalah pemain. Belajar tak
mesti mencatat. Membaca tak mesti dari buku, dan menulis tak berarti perlu
tinta. Mereka anak-anak alam, piawai dengan alam, maka saya biarkan mereka
bergumul pula dengan alam. Seperti dulu, menulis puisi tak perlu di tempat
sunyi dan tertutup di dalam kelas, tapi di tanah lapang beralaskan paha mereka
menatap megahnya Rinjani belajar merangkai kata, lalu membaca dengan nyaring.
Jadi, sebagai guru harus selalu menguatkan diri bahwa di manapun itu,
anak-anak Indonesia berhak mengenyam pendidikan yang layak. Tidak perlu
mempermasalahkan adat yang menjerat, atau orang tua yang masih primitif. Sudah
saatnya guru menancapkan kewajibannya menyebarkan ilmu, membangun generasi
penerus bangsa, dan loyalitas pada negara. Namun, akan lebih mudah untuk meraih
tujuan Indonesia yang ingin mencerdaskan bangsa, jika pendidikan kembali pada
esensi idealnya, yaitu berpijak pada tripusat pendidikan, terutama dukungan dari keluarga dan pemerintah.

























No comments:
Post a Comment