Apr 10, 2016

Seakar Asa di Pawang Tenun; Kaki Rinjani



SEAKAR ASA DI KAKI RINJANI
Oleh: Bunda Aghi
Maret, 2014 silam adalah pengakuan yang membanggakan bagi sebagian kami atas keluarnya SK penempatan CPNS di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Secarik kertas itu bagaikan prestasi hidup yang tinggi bagi sebagian masyarakat Lombok. Namun, rasa bangga itu memudar berganti rasa kecewa dan putus asa saat membaca tempat tugas di SDN 6 Akar-Akar yang termasuk daerah terpencil.
Kecamatan Bayan yang paling timur melewati pesisir panjang pulau Lombok bagian utara. Tepatnya di bawah kaki gunung Rinjani, dusun Pawang Tenun, Desa Akar-Akar. Pawang artinya hutan. Tak terbayang, bagi seorang pemula dan guru wanita seperti saya akan menelusuri dua hutan menanjak, menyebrangi sungai, serta menjajaki sawah dan kebun. Tanah merah yang halus tak akan pernah bersahabat ketika musim panas yang akan menjelma menjadi debu bak tepung halus.






Sedang saat hujan, akan berubah menjadi lumpur lincin. Ditambah lagi, saat itu saya sedang hamil. Butuh waktu sejam untuk melewati jalan rusak di tengah hutan sepanjang 1,5 kilo kalau ditempuh dengan jalan kaki saat hamil tua. Tapi apa mau dikata, saat Ibu pertiwi memanggil untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi anak-anak gunung yang termarjinalkan. Bagaimana tidak, siswa jarang mandi, menggosok gigi, dan berpakaian  seragam rapi kalau ke sekolah.

Suasana belajar di kaki Rinjani
Asyik bermain permainan tradisional

Meski di kaki gunung yang subur, tapi air bagai barang langka. Lebih baik berbagi beras daripada air, begitu celoteh warga. Jika dibagikan seragam, mungkin bau tokonya bertahan sehari, setelah itu akan menempel bau keringat dan bermunculan noda coklat terkena tanah. Maklum, sepulang sekolah mereka rata-rata akan melewati sungai dan bekerja mencarikan rumput untuk dijual, atau membantu warga untuk mengumpulkan hasil panen saat melewati kebun. Upahnya itu mereka gunakan untuk uang jajan. Apalagi kalau sudah musim panen puncak sudah tiba, jangan harap siswa akan masuk semua. Mereka akan ikut ke kebun bersama orang tua. Ya, sedikit menyalahkan orang tua yang menyampingkan pendidikan. Tak hanya itu, pada saat jadwal posyandu, banyak siswi yang menggantikan peran ibunya untuk menimbang
adik mereka. Ibunya, ya tetap di ladang.
Hal yang miris adalah, saat acara adat yang paling diagungkan bagi mereka. Saat itulah, warga berpakaian indah, merias diri, hanya sekedar untuk berkumpul dalam pesta adat. Sekolah, tak usah ragu untuk bolos. Untuk berpesta, rupa ternak dan hasil bumi dihamburkan, tapi untuk pendidikan, uang saku jarang di kantong.
Tentu, mereka tak bisa disalahkan. Semasih mau dirubah, tentu ada jalan pikirku. Hal ini harus dimulai dengan pendidikan yang harus ditanamkan dengan kuat. Butuh waktu lama dan proses panjang. Tahapan pertama, dimulai dari upgrading guru yang menjadi panutan siswa. Di sekolah kami, 8 dari 11 gurunya tak ada yang sesuai ijazahnya dengan pelajaran yang diampunya. Cukup strata satu dari segala jurusan dapat honor di sana. Meski hasil kebun melimpah ruah, dengan komoditas utama kopi dan coklat, tapi tetap saja mereka dalam kesederhanaan. Belum ada yang mau berbenah untuk memfasilitasi pengembangan diri mereka dengan teknologi. Sekedar telepon seluler untuk bercakap, mengirim pesan, dan memutar lagu.
gotong royong dengan para guru di sekolah


Perlahan, saya mulai perlihatkan kecanggihan telepon pintar yang mudah digunakan. Mulai dari  media sosial, browsing, berita online, dan fitur-fitur yang menarik. Tak lupa, saya sodorkan laptop untuk mereka belajar. Beberapa lama kemudian, di antara mereka, bahkan kepala sekolah sendiri mulai membeli laptop, dan tak malu untuk belajar bersama. Pernah, saya sindir salah satu rekan kerja. “Pak, kalau sekelas Bapak ya, tidak perlu mengumpulkan gaji honor. Dengan mengumpulkan hasil panen mangga saja sudah bisa membeli laptop yang lebih bagus dari saya,” sindir saya dalam canda. “Ah ibu, bisa aja. Kalo saya beli percuma, nanti saya gak bisa makenya,” imbuhnya pesimis. Esoknya, saya bawakan tas laptop, sembari berpesan, “Pak, ini ada tas. Tolong besok diisi laptop ya!” Tak sampai berbulan-bulan mereka berlomba-lomba melengkapi kebutuhan tersier guna menunjang diri dalam berprofesi sebagai guru. Tujuan saya semata-mata bukan untuk menyebarkan hedonisme, tapi membuka paradigma bahwa seorang guru harus menghargai profesinya sendiri. Guru senantiasa melakukan pengembangan dirinya terutama agar tidak terjangkit penyakit gagap teknologi.
Setahun lamanya mengajar di daerah terpencil, saya belum mendapatkan hasil yang produktif. Masih banyak hal yang harus dibenahi. Sekolah yang subur tentunya akan bisa diandalkan untuk perlahan-lahan membangun sekolah. Kami menggagas program Sabtu Menanam. Mendayagunakan setiap meter kebun sekolah untuk menanam buah, apotik hidup, dan juga pepohonan untuk pakan ternak. Tak diduga pula, di tengah keterpencilan kami, ternyata kami mampu menunjukkan taring dalam berkompetisi mengikuti lomba di tingkat gugus pada bulan Oktober 2015. Sekolah kami mengantongi juara 1 untuk pelajaran Matematika, juara 2 untuk pelajaran IPA, dan juara 3 untuk calistung kelas 1 dan 2. Anak-anak pedalaman mengalahkan anak pinggiran dari 8 sekolah.


Untungnya, pemerintah juga mulai menjulurkan bantuan dengan berbagai program yang masuk ke sekolah sekaligus ke dusun. Di antaranya penambahan kuota listrik, sehingga sekolah memiliki standmeter sendiri. Untuk irigasi, sudah dibenahi perpipaan melalui program Pamsimas. Untuk kesehatan, kami sangat berterima kasih pada puskesmas setempat yang secara rutin memberikan suntikan bias dan pengarahan mengenai pola hidup bersih kepada siswa. Hanya saja, yang kami sayangkan adalah pengawasan langsung dari pihak Dinas Pendidikan yang jarang melihat keadaan kami di sekolah. Sekolah kami tak pernah diperhitungkan untuk dijadikan tuan rumah untuk rapat gugus, apalagi rapat berkala kepala sekolah. Dalihnya karena medan yang yang berat dilalui.



Sungguh, kami udah mulai bangga dengan perkembangan sekolah dari segi fisik dan kemampuan sebagian kecil siswa, tapi tak berani berpuas hati. Perlahan-lahan siswa mulai menata diri pula. Dari segi penampilan, sikap, dan bahasa sehari-hari. Apalagi, semenjak saya mengikuti salah satu program pengembangan diri untuk guru SD dari SGI dalam program School of Master Teacher (SMT), hasilnya sungguh sangat berkesan pada siswa. Mulai dari menejemen kelas yang menjadi magnet siswa agar nyaman dalam belajar. Metode pembelajaran yang nonceramah. Tembok kelas tak lagi gundul. Banyak display (pajangan) yang menghias dinding, mulai dari display materi, hiasan kelas, catatan prestasi, identitas siswa, bahkan balon udara yang akan membawa siswa meraih cita-cita mereka. Setiap aksi tepukan dan gerakan juga memberikan motivasi dalam belajar. Kerja sama dan kekompakan senantiasa dibangun. Hal yang paling mereka banggakan, adalah julukan saya pada mereka; Laskar Rinjani. Dengan lantang mereka menjawab, “Siap, semangat, santai.” Jawaban lantang disertai gerakan hormat untuk kata siap, tangan kuat yang dikepal untuk kata semangat, dan kedua telapak tangan yang terbuka ringan untuk kata santai.





Keceriaan dan rasa malas perlahan-lahan mulai hilang, meski ada beberapa siswa yang masih belum mau keluar dari pengaruh adat. Sesekali saya sindir mereka melalui dongeng di saat jam imtaq hari Jumat dan jadwal pengembangan diri di hari Sabtu. Kadang saya berperan menjadi raja dan mereka adalah tentara. Pernah pula, saya menjadi wasit dan mereka adalah pemain. Belajar tak mesti mencatat. Membaca tak mesti dari buku, dan menulis tak berarti perlu tinta. Mereka anak-anak alam, piawai dengan alam, maka saya biarkan mereka bergumul pula dengan alam. Seperti dulu, menulis puisi tak perlu di tempat sunyi dan tertutup di dalam kelas, tapi di tanah lapang beralaskan paha mereka menatap megahnya Rinjani belajar merangkai kata, lalu membaca dengan nyaring.

Jadi, sebagai guru harus selalu menguatkan diri bahwa di manapun itu, anak-anak Indonesia berhak mengenyam pendidikan yang layak. Tidak perlu mempermasalahkan adat yang menjerat, atau orang tua yang masih primitif. Sudah saatnya guru menancapkan kewajibannya menyebarkan ilmu, membangun generasi penerus bangsa, dan loyalitas pada negara. Namun, akan lebih mudah untuk meraih tujuan Indonesia yang ingin mencerdaskan bangsa, jika pendidikan kembali pada esensi idealnya, yaitu berpijak pada tripusat pendidikan, terutama  dukungan dari keluarga dan pemerintah.

No comments:

Post a Comment