Apr 19, 2016

Sajak Pewaris Ilmu

Seusai mengkhatam ilmu di ujung lelah menukarkannya dengan secarik ijazah
Menapaki jalan, merayu embun basah
Mengeja jejak, walau penat menunggu
Dimanakah kita akan diaku?
Sekedar niat, hanya untuk berbagi lagu

Mari, mari guru hebat
Kita bukan pengemis jasa yang ditertawakan langit pucat
Tak akan pernah ditelan malam pekat
Tak akan diinjak lusuhnya jejak,         saat ilmu kita ikat

Ikat lekat pada mereka yang mengadu
Pada mereka yang kita sebut murid lugu

Ingatlah, sepanjang siang kita urai
Meski dada sesak karna masih saja mereka tak pandai
Tapi apalah, apalah kita yang tak lihai
Cukup Tuhan yang murni menjadi penilai

Demi secangkir mimpi dan seteguk asa
Mereka berharap selalu pada kita
Melahap sajian ilmu yang kita tata
Untuk senyum mereka di suatu masa

Terus, teruslah jalan itu kita titi
Sebab, jalan kelam mereka kita kan sinari
pena hitam mereka kan kita warnai
Sikap goyah mereka kan kita kokohi
Dan,
Hidup mereka kan kita dakwahi
Lewat tasbih ilmu dan sajadah cinta sejati

Maka, mari berjuang wahai sang pewaris ilmu di balik barisan Rinjani.

Kesan dan Pesan selama mengikuti SMT SGI

Kesan yang tak luntur sepanjang masa:

Kami datang dengan semangat ingin maju.

Meluangkan waktu untuk kembali mengeja ilmu.
Sejenak melepas waktu bersama keluarga sepanjang minggu.
Tetapi, itutu tak "kan menjadi ranjau pematah asa kita menimba ilmu.

Awal kita bersua, dalam microteaching. Mengajar bergantian dalam tepukan hangat tak pernah hening.

Lalu, mata dan hati semakin mantap terpaku dalam kuliah umum.
Terpatri hati untuk senantiasa belajar dan berbagi dengan penuh senyum.

Lewat Militery Supercamp, dibina kita menjadi pribadi disiplin, kerjasama yang solid, dan fisik yang kuat.
Karena itu hakikat meraih sukses belajar dengan tekad yang bulat.

Guru, tak mesti berkutat pada tugas mengajar yang sudah tak laku.
Dengan PTK, kita membuka paradigma baru bahwa meneliti dan berfikir ilmiah adalah senjata guru untuk maju.

Guru, tak mesti berpesan lewat tutur kata, tapi gambar dan wrna menjadi mantra agar siswa ikut berkarya.
Dengan kelas model, kita belajar menyulap dinding menjadi berharga.

Guru,  tak mesti berkutat pada buku yang beraksara, hingga membuat siswa jenuh tak terpana.
Dengan kelas kreatif, kita berkarya, belajar dari segalanya, hingga siswa terpesona.

Guru, tak mesti berdiri ditatap siswa duduk siap kebosanan.
Dengan kelasku istanaku, kita mengubah gaya, siswa harus nyaman belajar dari segala arah yang tentu menyenangkan.

Guru, tak hanya cukup pandai merangkai kata saat transfer ilmu kepada siswa.
Dengan literasi, kita bisa berlagu dalam kalimat-kalimat bernada.

Guru, tak hanya cukup berceramah dan menyuapi siswa dengan catatan.
Dengan kelas ceria, aktivitas bermain, berlari, berakting, dan saling adu lebih menyenangkan.

Guru, tak boleh memendam ilmu hanya untuk saku sendiri. Lewat proyek sosial, kita merasakan indah dan berkahnya berbagi.

Tak sampai di sana kita menerima segala ilmu yang telah ditelan.
Harus terlihat, sampai mana ilmu itu kita perjuangkan.
Lewat observasi, kita dituntun, sekedar ditengok, sudahkah kita paham apa yang kita cari?
Terima kasih bu Febri dan bu Laely...

Tak... tak lagi ditutup apa yang kita akui,
sebelum kita dipertanyakan dan diuji. Sampai kini, kita tetap berpatri untuk mencari ilmu dari Ilahi Rabbi
Untukmu, ibu pertiwi.

Pesan indah untuk kita, guru hebat di  tanah tioq tataq tunaq ini,
Kawan, tibalah kita di ujung jalan, menajamkan perjuangan, berdikari sendiri.
Lakoni terus dengan ilmu, iman, dan seni.
Tak usah ragu akan lelah dan penat yang menjadi duri.
Karena kita percaya, berbagi ilmu adalah jalan kita menuju surgawi.
Biar, biar kita lelah saat murid tak mengerti
Mereka hanya belum usai berpikir, bukan berarti kita rugi
Tetaplah kita terus berdiri untuk negeri indah ini.
Karena kita adalah srikandi cetakan SGI.
Yang tak pernah kenyang dengan ilmu untuk pengembangan diri.



Apr 10, 2016

Seakar Asa di Pawang Tenun; Kaki Rinjani



SEAKAR ASA DI KAKI RINJANI
Oleh: Bunda Aghi
Maret, 2014 silam adalah pengakuan yang membanggakan bagi sebagian kami atas keluarnya SK penempatan CPNS di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Secarik kertas itu bagaikan prestasi hidup yang tinggi bagi sebagian masyarakat Lombok. Namun, rasa bangga itu memudar berganti rasa kecewa dan putus asa saat membaca tempat tugas di SDN 6 Akar-Akar yang termasuk daerah terpencil.
Kecamatan Bayan yang paling timur melewati pesisir panjang pulau Lombok bagian utara. Tepatnya di bawah kaki gunung Rinjani, dusun Pawang Tenun, Desa Akar-Akar. Pawang artinya hutan. Tak terbayang, bagi seorang pemula dan guru wanita seperti saya akan menelusuri dua hutan menanjak, menyebrangi sungai, serta menjajaki sawah dan kebun. Tanah merah yang halus tak akan pernah bersahabat ketika musim panas yang akan menjelma menjadi debu bak tepung halus.






Sedang saat hujan, akan berubah menjadi lumpur lincin. Ditambah lagi, saat itu saya sedang hamil. Butuh waktu sejam untuk melewati jalan rusak di tengah hutan sepanjang 1,5 kilo kalau ditempuh dengan jalan kaki saat hamil tua. Tapi apa mau dikata, saat Ibu pertiwi memanggil untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi anak-anak gunung yang termarjinalkan. Bagaimana tidak, siswa jarang mandi, menggosok gigi, dan berpakaian  seragam rapi kalau ke sekolah.

Suasana belajar di kaki Rinjani
Asyik bermain permainan tradisional

Meski di kaki gunung yang subur, tapi air bagai barang langka. Lebih baik berbagi beras daripada air, begitu celoteh warga. Jika dibagikan seragam, mungkin bau tokonya bertahan sehari, setelah itu akan menempel bau keringat dan bermunculan noda coklat terkena tanah. Maklum, sepulang sekolah mereka rata-rata akan melewati sungai dan bekerja mencarikan rumput untuk dijual, atau membantu warga untuk mengumpulkan hasil panen saat melewati kebun. Upahnya itu mereka gunakan untuk uang jajan. Apalagi kalau sudah musim panen puncak sudah tiba, jangan harap siswa akan masuk semua. Mereka akan ikut ke kebun bersama orang tua. Ya, sedikit menyalahkan orang tua yang menyampingkan pendidikan. Tak hanya itu, pada saat jadwal posyandu, banyak siswi yang menggantikan peran ibunya untuk menimbang
adik mereka. Ibunya, ya tetap di ladang.