Jun 12, 2016

Opini Pendidikan



Mencetak Generasi Emas melalui Tripusat Pendidikan
Oleh: Bunda Aghi

Alkisah, tiga orang pemuda duduk bercengkrama di atas bukit. Seorang pemuda dari Malang mengeluarkan seplastik apel, lalu ia makan sebiji, sisanya ia buang. Kedua temannya heran. “Mengapa dibuang, Mas?” tanya temannya dengan logat Bali. “Di Malang banyak apel,” katanya berlagak. Pemuda dari Bali tak mau kalah, ia membuka tas berisi salak, langsung membuang salak ke jurang. “Mengapa dibuang, Beli?” tanya rekannya dari Lombok. “Masih sangat banyak salak di Bali,” paparnya tak kalah berlagak. Hanya orang Lombok saja yang tidak membawa apa-apa. Tak ada yang bisa ia banggakan. Tapi ia tak mau kalah, akhirnya ia mendorong pemuda Malang hingga jatuh dalam jurang. “Kenapa dibuang, Semeton?” kata orang Bali sangat kaget. “Di Lombok banyak orang malang.”
Malang, tentunya pada anekdot di atas adalah gambaran umum bagi kemalangan masyarakat Indonesia, terutama NTB. NTB jarang diperhitungkan di kancah nasional dalam hal pendidikan, tapi jika kita menyebut Lombok, maka seluruh mata dunia mungkin telah terhipnotis dengan keelokan alamnya. Sebagian besar yang melekat di Lombok, bisa dijadikan pariwisata, mulai dari bentang alam pegunungan megah Rinjani yang banyak memancarkan air terjun, sungai, perbukitan, perkebunan dan persawahan yang dilengkapi outbond, jejeran pantai dan pulau kecil, sampai adat masyarakat Lombok  yang ditinjau dari rumahnya, kain tenun, perkakas gerabah, prosesi adat menikah, serta hari besar sejarah Bau Nyale di Selatan Lombok.
Potensi pariwisata yang menjadi andalan NTB yang terkenal dengan pulau Lombok, harus berbanding lurus dengan sumber daya masyarakatnya. Masyarakat pribumi sendiri  yang harus kompeten dan bijak dalam mengelola sumber daya alam bahkan sumber daya manusianya sendiri, bukan menjadi budak di tanah kelahiran sendiri. Namun, sayang sekali hal ini masih jauh dari jangkauan pemerintah Provinsi NTB. Disadur  dari Tempo.co Mataram (25 Mei 2015), Kepala Pusat Statistik NTB, Wahyudin menyatakan tingkat kemiskinan di NTB masih cukup tinggi. Survey pada September 2014, jumlah penduduk miskin mencapai 816.621 atau 17,05% dari jumlah penduduk NTB, meski angka kemiskinan pada tahun 2015 turun menjadi 16,65%. Penurunan angka kemiskinan sampai sekarang tak hanya menjadi tugas pemerintah semata, tapi menjadi kewajiban kita semua untuk sama-sama menekan angka kemiskinan, salah satunya melalui bidang pendidikan.
Pendidikan dewasa ini hampir menjadi kebutuhan primer, karena sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Pendidikan adalah salah satu indikator dari kemerdekaan penuh Indonesia, sesuai dengan pesan yang tersirat dalam pembukaan UUD 1945 tentang tujuan Indonesia khususnya untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, sayang sekali Indonesia masih belum mutlak merdeka dari kualitas pendidikan. Organisasi kerjasama dan pembangunan Eropa OECD  (Organisation for Economic Cooperation and Development) melakukan survey pada tahun 2015. Singapura memimpin di peringkat pertama, diikuti oleh Hong Kong. Sementara Indonesia menduduki posisi nomor 69 dari 76 negara. Direktur pendidikan OECD, Andreas Schleicher mengatakan bahwa perbandingan itu diambil berdasarkan hasil tes PISA siswa yang berumur 15 tahun di 76 negara untuk menunjukkan hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.
Berpijak pada data tersebut, peringkat Indonesia yang 8 terbawah adalah suatu tamparan yang keras bagi kita semua. Sampel siswa yang dengan rentang usia 15 tahun adalah suatu parameter tentang kualitas generasi muda yang masih rendah. Banyak hal yang mendasari mengapa tubuh generasi muda masih dikatakan ‘kekanakan’ di saat memasuki usia pubertas sehingga melemahkan mutu wajah pendidikan Indonesia. Adapun  kendala yang berkaitan dengan mutu pendidikan diantaranya adalah keterbatasan akses pada pendidikan terutama pada daerah terpencil, jumlah guru yang belum merata, minimnya profesionalisme guru, serta kurangnya partisipasi masyarakat.
Pendidikan sebagai tiang utama suatu negara harus diintegrasikan di semua bidang kehidupan. Pendidikan tak harus di sekolah. Pendidikan tak mesti diurus guru.  Pendidikan itu harus tetap dibangun dari tripusat pendidikan. Keluarga, sekolah, masyarakat, harus berkolaborasi. Maka dari itu, adapun langkah nyata yang harus digalakkan oleh masyarakat melalui dukungan pemerintah untuk melahirkan generasi emas yang berkarakter dan berakhlak mulia, di antaranya:
a. Menyemarakkan kegiatan seminar ilmu parenting. Keluarga adalah sekolah utama bagi anak. Pendidikan anak sudah dimulai dari masa pranatal, semenjak dalam kandungan ibu. Pola hidup, sikap, dan perasaan ibu, sangat berperan penting bagi perkembangan janin. Sampai pada saat melahirkan, pola asuh menjadi hal yang signifikan dalam pembentukan fisik dan perkembangan otak anak. Banyak orang yang bisa menjadi orang tua, tapi belum bisa berperan baik menjadi ayah dan ibu. Ilmu parenting dalam hal mengasuh, asupan gizi, serta membangun karakter anak, tidak hanya dilakukan bagi kaum terpelajar saja pada acara seminar, tapi bisa dilakukan melalui banyak media, seperti TV, media sosial, dan posyandu atau kegiatan desa secara langsung.
b. Mewujudkan lingkungan sekolah yang menyenangkan untuk siswa. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sangat berperan penting dalam menentukan masa depan siswa. Sekolah dengan seluruh komponen yang terbangun di dalamnya, mulai dari guru, kurikulum, fasilitas, serta manajemennya, harus berintegrasi kuat. Hal yang utama yaitu faktor guru sebagai tenaga pendidik. Sejalan dengan berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, guru yang seyogyanya sebagai panutan yang digugu dan ditiru oleh siswa mulai berbenah diri. Mulai dari menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan. Kelas sebagai lingkungan belajar layaknya kamar pribadi siswa setelah siswa menganggap sekolah sebagai rumah. Mengatur ruangan kelas dimulai dari pola duduk siswa yang bervariasi, seperti pola U, V, O, dan sebagainya. Lalu kelas dihiasi dengan berbagai display (pajangan). Display merupakan suatu wadah untuk memberikan informasi penting yang dapat menunjang pembelajaran di kelas. Display kelas yang harus dipajang adalah display afirmasi yang berisi kata motivasi, display hasil karya siswa sebagai bentuk apresiasi, display materi mengandung materi pembelajaran, dan display prestasi berupa catatan penghargaan kepada setiap siswa. Jika kelas  dirancang dengan seni dan direncanakan dengan cermat dapat membantu guru dalam mentransfer pengetahuan dengan baik kepada siswa. Apalagi, jika rangkaian kegiatan pelajaran menerapkan metode pembelajaran variatif dan menyenangkan seperti yang termuat dalam model pembelajaran kooperatif, dan diperkuat lagi penggunaan media dan alat bantu pembelajaran. Dengan begitu akan, siswa akan antusias dalam belajar, relasi positif akan terikat antara guru dan siswa, semakin merangsang kreativitas dan keingintahuan siswa, meningkatkan harga diri dan nilai diri pada siswa. Guru sangat dituntut untuk membangun karakter siswa, bukan menyuapi siswa.  Selain membangun karakter siswa dalam kelas, lingkungan sekolah juga mempunyai peran yang  sangat penting sebagai wadah siswa dalam membangun jati diri, apalagi untuk siswa tingkat SMP dan SMA. Sekolah harus lebih banyak  membuat kegiatan yang positif, seperti menyelingi kegiatan belajar 1 semester dengan bazar, mengadakan karyawisata, menyemarakkan kegiatan organisasi (pramuka, drumband, mading, dan OSIS/OSIM), giat mengadakan lomba, pameran. Untuk sekolah yang kurang memiliki fasilitas untuk menunjukkan eksistensinya seperti sekolah di daerah terpencil, bisa melibatkan siswa untuk berperan aktif dalam membuat kebun sekolah, misalnya mengkhususkan hari Sabtu sebagai hari menanam. Dengan begitu, siswa akan bangga dan semangat untuk sekolah karena keberadaannya sangat dihargai dan merasa memiliki sekolah.
c. Mengintegrasikan pelajaran akhlak mulia, terutama pendidikan agama ke dalam mata pelajaran yang lain untuk menanamkan konsep keimanan dan tanggung jawab pribadi atas hidup yang dijalani. Sebab, ilmu tanpa iman akan salah arah, dan iman tanpa ilmu akan salah kaprah. Maka, secara kodratnya segala hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sebaiknya melibatkan Sang Pemilik Ilmu. Dengan begitu, jiwa siswa yang sudah berpengetahuan tak akan dirasa gersang saat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
d. Melibatkan siswa dalam setiap kegiatan sosial dan peduli lingkungan. Lingkungan sosial dan alam sekitar adalah sarana siswa untuk mengembangkan potensi, minta serta bakat pada siswa. Dengan partisipasi aktif dari siswa untuk kegiatan sosial dan memelihara lingkungan dapat menanamkan rasa cinta kepada tanah air.
e. Memfasilitasi seluruh siswa untuk mengembangkan bakat dan minat melalui sekolah kejuruan. Pemerintah harus banyak memetakan potensi pekerjaan untuk 5 tahun atau 10 tahun ke depan bagi setiap generasi. Melalui sekolah kejuruan, siswa dibina untuk menjadi pribadi yang produktif, inovatif, dan kompetitif. Sehingga, setelah mereka selesai menempuh pendidikan formal, mereka sudah siap untuk mengembangkan minat dan bakat.
f. Memperbanyak rumah baca. Kegiatan membaca sangat penting untuk dibudayakan, bahkan mulai dari usia pranatal sampai tua. Apalagi, di usia menginjak remaja, sangat membutuhkan kegiatan positif untuk membentuk jati diri. Usia remaja bagaikan pedang. Jika tak digunakan dengan baik, maka akan meranggas kepala sendiri. Maka, pemerintah dapat memanfaatkan taman-taman, tempat rekreasi, dengan membuat rumah baca, sehingga kebiasaan remaja yang membuang waktunya hanya untuk bersenang-senang di taman dan tempat rekreasi mulai beralih dengan mengisi waktunya dengan membaca sambil berkumpul dengan teman.
g. Menyaring tayangan atau pertunjukan yang mengauskan karakter mulia siswa. Tayangan hedonisme, kekerasan, perilaku menyimpang, dan sifat lainnya adalah penyakit massal yang dapat menghancurkan negara. Maka sudah selayaknya, pemerintah bersikap tegas terhadap tayangan atau gambar yang dapat  menjerumuskan siswa pada hal-hal yang negatif.
h. Memberikan pandangan yang istimewa kepada penyandang disabilitas. Memang, berbagai macam penghargaan sering ditampilkan di umum tentang prestasi sebagian besar oleh kaum disabilitas. Namun, masih banyak juga yang memandang dengan sebelah mata keberadaan mereka. Oleh karena itu pemerintah dan masyararakat harus bekerja sama dalam memfasilitasi kehidupan mereka agar tetap bisa menjalankan kehidupan dengan baik.
Dari sebagian kecil kegiatan dan program yang berpijak pada tripusat pendidikan seperti dipaparkan di atas diterapkan, maka dengan sendirinya karakter pada generasi muda akan melekat pada pribadi mereka. Sehingga berbagai beban negara tentang anak putus sekolah berganti menjadi semangat anak sekolah. Siswa yang terjangkit virus kenakalan remaja menjadi siswa yang bergelimang kejayaan di masa remaja. Pengangguran yang menjadi beban pemerintah berganti menjadi produktif dan kompetitif. Maka Ibu Pertiwi akan bersiap-siap maju menunjukkan taringnya kepada dunia di bawah semangat emas generasi muda.

No comments:

Post a Comment