Mar 16, 2016

SMT KLU, Pintu  Taubat Guru Hebat
                         oleh: Bunda Aghi.

Ada serangkai kalimat telah kugubah dlam judul: Kotaku.

Lombok Tengah, kota kelahiranku
Mataram, kota Jati diriku
Lombok Barat, kota pelaminanku
Lombok Timur, kota kelahiran cintaku
Lombok Utara, kota pengabdianku.

Lama meretas pengabdian di Kabupaten Lombok Utara, jauh di kaki Gunung Rinjani, jasaku terpanggil untuk berbagi hidup bersama bocah-bocah gunung, yang dahulu tak berani bermimpi.

Hutan adat yang lebat, kali dengan batu besar yang berderet, serta kebun yang isinya memikat, kulalui dengan asa yang dulunya hanya serpihan tak berikat.

Tak terbayang sudah, siswanya kumal, tak tahu rasanya mandi pagi. Apalagi sarapan, sekedar mengganjal perut, sebagai bekal konsentrasi belajar.
Apa daya, saya perempuan yang tak mampu menggapai dan menyentuh kalian dalam kondisi hamil besar.

Tak perlu sedih, hanya tegar.
Sebuah kalimat mencambukku. Hai, bu guru. Tak perlu kau berniat jadikan anak muridmu menjadi orang pintar.  Nanti kalau tidak pintar, akan marah dan murka. Sudahlah, yang penting ikhlas mengajar dan lakukan semampu dan sebaik mungkin. Urusan berhasil, Allah yang akan memutuskan kelak muridmu akan menjadi apa.

Cukup sadar, lalu perlahan bergerak. Terus berjalan mendidik dan mengajari mereka. Tahukah wahai guru hebat, mendidik lebih sukar daripada mengajar. Mengajari anak untuk membaca itu gampang, tapi mendidik untuk berakhlak mulia itu sungguh harus kita contohkan dulu. Salam, sapa senyum, terima kasih, maaf, itu jauh dri kebiasaan murid saya. Perlahan, kalau saya keliru dan khilaf, saya langsung mnta maaf kepada mereka. Terima kasih juga tetap didengungkan di akhir belajar, karena mereka mau masuk skolah. Ketahuilah, sekolah bagi mereka masih tidak penting. Lebih penting mencari uang atau membantu orang tuanya di kebun. Atau mereka rela tak berseragam, asal mengenakan baju bagus untuk pergi begawe (pesta). Sungguh ironi mereka yang masih terkekang adat. Apalagi, sudah memasuki bulan kesepuluh, murid saya paling banyak masuk 6 orang. Pernah, waktu dulu, hanya 3 yang masuk karena maulid adat. Bagi mereka, itu ajang memamerkan diri, kesempatan keluar rumah, setelah lama mengurung dan menyibukkan diri di ladang. Apalagi, kalau sekolah lain mungkin  di akhir tahun ajaran, para guru menyibukkan diri rapat panitia PSB. Sedang kami di sana, harus berkeliling kampung meminta mereka untuk sekolah tepat wktu. Tapi kebanyakan mereka berdalih, tunggu waktu, bulan, tanggal,  yang tepat untuk memasukkan anak mereka sekolah. Entah itu perhitungan tolak bala apa yg mereka pakai. Percuma rasanya kalender pendidikan, selain untuk melihat tanggal merah.

Sekali lagi, apa daya hanya sebuah pengabdian yang mampu saya pusari di sekolah saja. Sesekali kami berbagi dengan mereka, berembug, bekerja sama, mereka masih enggan. Sewaktu pembagian BSM, baru mereka rata-rata mendatangi kami. Pun, guru-guru lebih mengutamakan membeli  tanah daripada sekedar laptop sebagai penunjang.
Pernah saya sindir seorang guru  di sana. Dia terkenal sebagai juragan tanah, kopi, dan coklat. "Pak, ini saya kasih tas laptop. Tolong bapak isi ya," kataku dengan datar. Jelang berapa hari, ia tenteng laptop merek terkenal dengan tas punggung yang berkualitas.

Mulai berbenah bersama. Itu yang kami lakukan. Kami lihat potensi siswa yang kurang secara akademik, (meski sempat menjadi juara satu di tingkat gugus untuk mata pelajaran Matematika, dan juara 2 untuk mata pelajaran IPA akhir tahun 2015) tak membuat kami minder. Kami harus tetap bertekad agar sekolah terpencil kami dipandang. Lahan yang gembur kami manfaatkan untuk kegiatan hari Sabtu menanam. Anak-anak kami libatkan untuk sama-sama memiliki skolah. Sama-sama membangun sekolah.

Lama, kami berbenah, tapi itu tak cukup. Kami butuh cambukkan yang lebih panas lagi. Kebetulan sekali, saya berteman di media sosial facebook  dengan salah satu fasilitator hebat kita, ibu korwil SGI NTB, Laely Nurtawajjuh. Saya sangat tertarik dengan postingannya. Akhirnya, dengan tergesa-gesa saya komentar di postingannya. Kalau tidak salah, begini komentar saya: "Ly, bagus sekali karya media dan ABPnya. Mau saya ikut SGM," komentar saya polos. MasyaAllah, SGM kan merek susu. "Bukan SGM Za, tapi SGI SMT,"jawabnya.
Setelah lama, baru saya lihat lagi postingannya twntang pendaftaran School of Master Teacher (SMT) dan saya sangat tertarik. Lalu, saya berdiskusi dengan suami. Menimbang baik buruknya, karena tempat tinggal kami jauh dari tempat pelatihan, musim hujan melanda, dan terlebih lagi akan berpisah lama dengan buah hati yang cantik nan solehah kami. Suami sangat mendukung, dengan lembut beliau menyemangati. "Untuk mendapatkan yang lebih dan bagus, memang kita harus lelah dan menderita," ujarnya membuka mata dan hati saya menepis segala lelah dan godaan yang sekiranya nantinya kembali memberatkan hati saya.
Alhamdulillah, Allah selalu meringankan langkah, meski kemarin sempat diguyur hujan lebat bersama guru hebat Bu Arisa, yang bahkan dia mrnerjang hujan angin melewati tepi laut tanpa jaket apalagi jas hujan. Dan pernah, sekali putri saya demam di saat jadwal pertemuan. Allahurabbi, penyandar segala cobaan dalam hidup.
SMT, membuka jalan bagi para pejuang pendidikan. Menjadi pintu taubat bagi para guru yang haus ilmu.
Memasuki grup saja, rasa ingin berbagi melanda.


Terima kasih, SMT.
Tetap berjuang, para Guru hebat.💝

No comments:

Post a Comment