Jul 1, 2013

Lelaki itu...

Lelaki hitam itu kini makin aku sayangi. Mungkin dulu ia putih sepertiku. Tapi, karena sawah garapan selalu ia jamah, hingga lama-kelamaan menggosongkan kulitnya. Aku menulis ceritanya pada episode orang-orang yang berjasa dalam hidupku. Anugerah dan karunia dari Allah Ta’ala, beliau selalu di sampingku, hingga aku mengenal dunia dan bagaimana cara menaklukkannya.
Insan mana yang tak akan menyayanginya. Sifatnya penyayang dan tanggung jawab darinya yang aku banggakan. Aku sangat mencintainya setelah ibu. Dia akan rela menahan lapar jika aku belum makan. Ia rela berkuyup keringat, bahkan menerjang badai untukku. Kami sangat dekat. Setelah ibunya, istrinya, lalu aku. Segala kisah sedih dan bahagia ia curahkan. Tentunya, setelah ia anggap aku dewasa.
Dulu, ia bukan petani. tetapi, pekerja seni yang tidak berkembang. Aku bisa membuat prakarya mungkin salah satu gen seni standarnya mengalir ke jiwaku. Ya, lumayan juga sih. Perabotan rumah yang dari kayu dan besi, mampu ia kerjakan sendiri.
Dia, lelaki sederhana, tapi sayang agak diacuhkan. Aku sangat ingin membalas jasanya. Moga karena aku dan lewat hidupku, ia akan dipandang semua orang.
Hampir seperempat abad mungkin aku hidup di sampingnya. Berbagai duka dan lara kami khatam bersama. Mulai aku ingusan hingga kini. Hidup kami awalnya menumpang. Tapi, berkat seni standarnya, ia membuat ribuan bata di atas tanah warisannya. Setengah lahannya ia tanami tebu. Bata-bata itu ia susun menjadi rumah kecil enam ruangan. Dari laba tebu, kami hidup. Rumah itu, kian lama makin melebar. Istana bagiku. Hasil ulatan tangannya sendiri.

Sesekali aku melihat tangan tebalnya membuat lem dari kanji. Lalu ia rekatkan di kertas-kertas. Belakangan aku tahu, bahwa ia pencetak buku. Sering kudapati ia pulang malam. Aku tahu, ia bekerja untuk kami. Semoga Allah Ta’ala selalu merahmatimu, Bapak. 

4 comments:

  1. Anonymous7/01/2013

    pekerja seni yang tidak berkembang... mhm...
    saya pernah memiliki ide untuk mengembangka potensi orang tua saya, terutama ibu. Dia pintar hanya saja ya.. ane rasa yang kurang adalah supporter dan inspirator.. Tapi akhir-akhir beliau beberapa kali mengungkapkan bahwa beliau ingin kuliah lagi.. tapi lebih dari itu saya ingin dia belajar teknologi, komputer lah at least.. dan internet, (gue mau nyuruh dia ngeblog) jadi pemikirannya yang bagus-bagus itu bisa terlihat dan ya.. terbaca. Kapan-Kapan upload saja karya seni yang terpendam tu Za.. setidaknya dikaw bisa share talenta bokap ente.. :)

    ReplyDelete
  2. Allahuakbar... Beruntungnya kita ya, Allah anugerahkan orang2 yang menginspirasi dan nggak jauh2,yaitu orang tua kita...

    "Keep our smile" ^^"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anonymous7/08/2013

      yoa vy.. jangan mau kalah tulis juga tentang Abah :) (yang suka Rhoma) hihi

      Delete
  3. Good.... Yang penting kita juga mesti tetap memberi dukungan kepada orang tua kita. Berbakti dalam bentuk apapun dan kapan pun..,

    ReplyDelete