Jul 13, 2013

Ibu, ibu, hanya ibu...

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: "Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah. Lalu ia (laki-laki itu) bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku perlakukan baik?". Rasulullah menjawab:  "ibumu." "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab: "Ibumu". "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab: "Ibumu". Dia berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab: "Bapakmu".
(HR. Muttafaqun 'Alaihi).

Ibu. Kata itu memang menyentuh buatku. Mungkin bagi semua.


Setiap saya menonton film atau video tentang ibu, selalu terenyuh. Menangis. Haru. Melly telah menciptakan lagu Bunda. Iwan Fals juga tentang ibunya yang penyayang kepada anak-anak gelandangan dan hidup dalam perjuangan membahagiakan anak-anaknya. Suara merdu Sulis selalu melantunkan Ummi. Aku... hanya bisa mendoakan dan memberikanmu senyuman ibu. Jauh, di setiap doa dan bisikan itu selalu kusebut namamu.


Sajak untuk Mujahid Cilik

Kisah anak-anak Gerilya
                       @Aliza_Fatimah

Anak-anak di kawasan gerilya
Diam memaku menggandeng batu
Membuka pandangan dengan perlawanan
Entah itu karena sakit atau dendam.

Ada tangis lugu yang merayu
Lalu, di garis merah itu mereka bersatu
Membuka sedikit sajak untuk bercakap
Selebihnya; “Mari kita intip lawan”

Nyawa mereka adalah pengabdian
Tak terbeli oleh usia
Tanpa dimengerti oleh kemanjaan
Hanya lidah kelu yang bicara
“Mari, kita berperang!”

Di belakang benteng
Mereka menghitung peluru
Bukan menghitung uang dan mainan

Mata mereka tak perlu kaget
Oleh tangis dan darah
Dibiarkan meruah seperti telaga
Dibiarkan mewarna seperti senja

Hanya satu tanya.
Mereka anak-anak biasa,
Ataukah tentara pemula?



Gambar dimabil dari realisasikankata.blogspot.com

Kalau Melly G. dan Dedi M., punya lagu apa kata dunia, saya cuma bilang apa mau dikata, dunia begitu kejam. Mujahid belia telah tumbuh tanpa pupuk. Percuma ada lembaga perlindungan anak di dunia, ada lagi lembaga yang mengatur kebijakan perdamaian dunia. Kejam tetap kejam.
Indonesia bersuara toh hanya sekelumit orang yang mendengar.
Mesir, Irak, Palestina, Madinatul Munawarah, Makkah alMukarramah... tetaplah dalam Lindungan Allah Azza wa Jalla.
Para Mujahid Cilik terus semangat!!! Mengingat kata Khalifah Umar ibnu Khatthab dan Ali ibnu Thalib: Dunia boleh di tanganmu, tapi jangan di hatimu.
Akhirat adalah tujuan kita semata.

Jul 8, 2013

Jalan-jalan Ke Nipah with Komunitas Pade Angen

Nipah is Seruuu!!!
Mau seru-seruan liburan. Nipah aja yuk!!!
Mengapa mesti Nipah? Harus dibaca ne...
Bismillah, semoga liburan itu diberkahi Allah. Nipah is romatic. Lihat pantainya ne!


Awalnya sih ini direncanakan seminggu sebelumnya bersama teman-teman SMA, Komunitas Pade Angen. Kelas XII IPA 3. Tapi liburan ini disetujui semalam sebelum keberangkatan. Maklumlah, udah 6 tahun lulus SMA, semua pada sibuk. Lamaaaa sepakatinnya. Dan yang bisa pergi hanya para lajang dan sepasang pasturi, pasutri yang belum berlaba. Ngerti berlaba kan? Orang sasak bilang ndekman bebati:  belum punya anak.
Kenapa mesti ke Nipah? Soale dulu aku pernah sore-sore ke Nipah, makan ikan bakar. Mantap!!! Kenapa sih tanda seru lagi, moga gak ada yang bilang tulisan saya alay, tanpa EeYeDe. Sudah mantap gitu, sunsetnya keren banget. Ups, Subhanallah... (Saya ganti deh, gak pake tanda seru lagi). Wah, lautnya jadi orange. Burung-burung  melintas di sawang. Berpencar berbagi energi. Ombak makin menyurut. Jauh terjangkau oleh langkah pendek. Ikan-ikan lenyap. Ya iyalah, udah kemakan semua. Hehehe...

Nipah itu seru deh!!! (tanda seru lagi). Meski terletak jauh dari Mataram, tapi mengasyikkan sepanjang perjalanan. Orang-orang juga kebanyakan menyebutnya Tanjung Nipah. Nipah itu ada di Desa Malaka, Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, singkat saja “Kelu” capek kalo “Ka-el-Uu”.

Kalau dari Mataram, ambil saja jalan Ampenan, tapi kalau sudah dari Gunung Sari atau KLU, jangan ke Ampenan ya! (Ni sih wajar tanda seru, soale kalimat perintah) Hehe... Ampenan kota tua itu meski padat, tapi unik, bersejarah. Setelah melewati Ampenan lalu kita terhubung dengan Meninting. Sepanjang Meninting, Area pantainya full dengan bangunan untuk akses pariwisata. Mulai dari hotel, spa, kuliner, cafe, hotspot, artshop. Pantainya kalau gak salah ya pantai Montong Buwuh, Melase, Pesisi Batu Layar, Batu Bolong, Duduk, Senggigi, Kerandangan 1, Kerandangan 2, Mangsit, Spangi, Malaka,  Malimbu, lalu Nipah. Kebayang jauh kan? Tapi eits, sepanjang perjalanan  bakal melihat panorama yang indah. Sepanjang kiri jalan pantai pandangan yang elok dipandang mata. Deburan ombak di tengah birunya bahari. Lembaian nyiur tinggi merindangkan pasir. Bangunan megah nan eksotik. Tapi untuk anak-anak, siapkan kacamata kuda (agar tidak menoleh kiri-kanan), sepanjang pinggiran jalan raya Senggigi sudah dipadati Baliho artis seksi dan wisatawan asing yang meramaikan jalanan Sengigigi. Astagfirullah wa ’atubuilaihi!!! (Wajar lagi tanda seru, benar-benar mengajak istigfar).

Menuju Nipah memang jalannya sudah sangat mulus, tapi banyak tanjakann – turunan juga. Kalau pakai kendaraan, mesti pakai yang antimogok atau cepat oper giginya. Kasian nanti, di tengah tanjakan mobilnya mogok.
Sesampai di Nipah, silahkan langsung menikmati pemandangannya. Ini kami berikan foto-fotonya, hasil dari fotografer Hamdi Al- Pujudi. Saya, Aliza Fatimah juga ikut jeprat-jepret ala kadarnya. Menampilkan model-model: Sita Arilah Ichsan (Gak punya FB, hoby ngetweet aja), Fahree Zaal ChairilDedik HendraYadi Try Ema and bang James, Welli Hamid's,  dan Justo Banyuan Generasi Baru
Acara Penyikatan Makanan. Semua pada malu, kecuali aku... hehehe.
Pelecingnya belum datang.

Nipah memang bagus. Sampai sana bisa langsung pesan ikan bakar, Cumi bakar, Pelecing kangkung. Tapi sayang, udah enak-enak gitu,masih aja ada teman yang cari sayur bening. Wahhh, mending sayur asin aja sono di laut!!! (ini baru lebay). Nipah bisa memanjakan kita. Bisa bermain kano, berfoto di dekat jejeran perahu-perahu (daripada di jejeran bunga-bunga) hehehe... Ada kamar mandi dan musholla berbentuk kubus lagi. Apalagi kalau sore menjelang sunset, kita bisa lari dan main bola di lapangan Nipah. Buah kepala tinggal dipetik langsung bayar lagi. 
 Habis dari Nipah, hari masih terasa panjang untuk dinikmati bersama. Lalu, kami duduk di pinggir jalan melewati Senggigi menunggu sunset sambil makan jagung bakar. Bersama-sama kalian memang seru, kawan. Masih rame. Tapi tetap seru menghabiskan waktu di Nipah. Hayoo, jangan sampai baca aja, ambil motor langsung go!!!

Trims buat Emma ma abangnya yang bayarin kita. Buat Welly Hamids yang udah sopirin kita, hehe yang udah mau tumpangin kita. Buat Hamdi atas dokumentasinya. Buat yang lain trims waktu dan kebersamaan kita ya!!! 

Jul 1, 2013

Lelaki itu...

Lelaki hitam itu kini makin aku sayangi. Mungkin dulu ia putih sepertiku. Tapi, karena sawah garapan selalu ia jamah, hingga lama-kelamaan menggosongkan kulitnya. Aku menulis ceritanya pada episode orang-orang yang berjasa dalam hidupku. Anugerah dan karunia dari Allah Ta’ala, beliau selalu di sampingku, hingga aku mengenal dunia dan bagaimana cara menaklukkannya.
Insan mana yang tak akan menyayanginya. Sifatnya penyayang dan tanggung jawab darinya yang aku banggakan. Aku sangat mencintainya setelah ibu. Dia akan rela menahan lapar jika aku belum makan. Ia rela berkuyup keringat, bahkan menerjang badai untukku. Kami sangat dekat. Setelah ibunya, istrinya, lalu aku. Segala kisah sedih dan bahagia ia curahkan. Tentunya, setelah ia anggap aku dewasa.
Dulu, ia bukan petani. tetapi, pekerja seni yang tidak berkembang. Aku bisa membuat prakarya mungkin salah satu gen seni standarnya mengalir ke jiwaku. Ya, lumayan juga sih. Perabotan rumah yang dari kayu dan besi, mampu ia kerjakan sendiri.
Dia, lelaki sederhana, tapi sayang agak diacuhkan. Aku sangat ingin membalas jasanya. Moga karena aku dan lewat hidupku, ia akan dipandang semua orang.
Hampir seperempat abad mungkin aku hidup di sampingnya. Berbagai duka dan lara kami khatam bersama. Mulai aku ingusan hingga kini. Hidup kami awalnya menumpang. Tapi, berkat seni standarnya, ia membuat ribuan bata di atas tanah warisannya. Setengah lahannya ia tanami tebu. Bata-bata itu ia susun menjadi rumah kecil enam ruangan. Dari laba tebu, kami hidup. Rumah itu, kian lama makin melebar. Istana bagiku. Hasil ulatan tangannya sendiri.

Sesekali aku melihat tangan tebalnya membuat lem dari kanji. Lalu ia rekatkan di kertas-kertas. Belakangan aku tahu, bahwa ia pencetak buku. Sering kudapati ia pulang malam. Aku tahu, ia bekerja untuk kami. Semoga Allah Ta’ala selalu merahmatimu, Bapak.