Nipah is Seruuu!!!
Mau seru-seruan liburan. Nipah aja yuk!!!
Mengapa mesti Nipah? Harus dibaca ne...
Bismillah, semoga liburan itu diberkahi Allah. Nipah is
romatic. Lihat pantainya ne!
Awalnya sih ini direncanakan seminggu sebelumnya bersama
teman-teman SMA, Komunitas Pade Angen. Kelas XII IPA 3. Tapi liburan ini
disetujui semalam sebelum keberangkatan. Maklumlah, udah 6 tahun lulus SMA,
semua pada sibuk. Lamaaaa sepakatinnya. Dan yang bisa pergi hanya para lajang
dan sepasang pasturi, pasutri yang belum berlaba. Ngerti berlaba kan? Orang
sasak bilang ndekman bebati: belum punya
anak.
Kenapa mesti ke Nipah? Soale dulu aku pernah sore-sore ke
Nipah, makan ikan bakar. Mantap!!! Kenapa sih tanda seru lagi, moga gak ada
yang bilang tulisan saya alay, tanpa EeYeDe. Sudah mantap gitu, sunsetnya keren
banget. Ups, Subhanallah... (Saya ganti deh, gak pake tanda seru lagi). Wah,
lautnya jadi orange. Burung-burung melintas di sawang. Berpencar berbagi energi.
Ombak makin menyurut. Jauh terjangkau oleh langkah pendek. Ikan-ikan lenyap. Ya
iyalah, udah kemakan semua. Hehehe...
Nipah itu seru deh!!! (tanda seru lagi). Meski terletak jauh
dari Mataram, tapi mengasyikkan sepanjang perjalanan. Orang-orang juga
kebanyakan menyebutnya Tanjung Nipah. Nipah itu ada di Desa Malaka, Pemenang, Kabupaten
Lombok Utara, singkat saja “Kelu” capek kalo “Ka-el-Uu”.
Kalau dari Mataram, ambil saja jalan Ampenan, tapi kalau
sudah dari Gunung Sari atau KLU, jangan ke Ampenan ya! (Ni sih wajar tanda
seru, soale kalimat perintah) Hehe... Ampenan kota tua itu meski padat, tapi
unik, bersejarah. Setelah melewati Ampenan lalu kita terhubung dengan
Meninting. Sepanjang Meninting, Area pantainya full dengan bangunan untuk akses
pariwisata. Mulai dari hotel, spa, kuliner, cafe, hotspot, artshop. Pantainya kalau
gak salah ya pantai Montong Buwuh, Melase, Pesisi Batu Layar, Batu Bolong,
Duduk, Senggigi, Kerandangan 1, Kerandangan 2, Mangsit, Spangi, Malaka, Malimbu, lalu Nipah. Kebayang jauh kan? Tapi
eits, sepanjang perjalanan bakal melihat
panorama yang indah. Sepanjang kiri jalan pantai pandangan yang elok dipandang
mata. Deburan ombak di tengah birunya bahari. Lembaian nyiur tinggi
merindangkan pasir. Bangunan megah nan eksotik. Tapi untuk anak-anak, siapkan
kacamata kuda (agar tidak menoleh kiri-kanan), sepanjang pinggiran jalan raya
Senggigi sudah dipadati Baliho artis seksi dan wisatawan asing yang meramaikan
jalanan Sengigigi. Astagfirullah wa ’atubuilaihi!!! (Wajar lagi tanda seru, benar-benar
mengajak istigfar).
Menuju Nipah memang jalannya sudah sangat mulus, tapi banyak
tanjakann – turunan juga. Kalau pakai kendaraan, mesti pakai yang antimogok
atau cepat oper giginya. Kasian nanti, di tengah tanjakan mobilnya mogok.
Acara Penyikatan Makanan. Semua pada malu, kecuali aku... hehehe.
Pelecingnya belum datang.
Nipah memang bagus. Sampai sana bisa langsung pesan ikan bakar, Cumi bakar, Pelecing kangkung. Tapi sayang, udah enak-enak gitu,masih aja ada teman yang cari sayur bening. Wahhh, mending sayur asin aja sono di laut!!! (ini baru lebay). Nipah
bisa memanjakan kita. Bisa bermain kano, berfoto di dekat jejeran perahu-perahu
(daripada di jejeran bunga-bunga) hehehe... Ada kamar mandi dan musholla berbentuk
kubus lagi. Apalagi kalau sore menjelang sunset, kita bisa lari dan main bola
di lapangan Nipah. Buah kepala tinggal dipetik langsung bayar lagi.
Habis dari Nipah, hari masih terasa panjang untuk dinikmati bersama. Lalu, kami duduk di pinggir jalan melewati Senggigi menunggu sunset sambil makan jagung bakar. Bersama-sama kalian memang seru, kawan. Masih rame. Tapi tetap seru menghabiskan waktu di Nipah. Hayoo, jangan sampai baca aja, ambil motor langsung go!!!
Trims buat Emma ma abangnya yang bayarin kita. Buat Welly Hamids yang udah sopirin kita, hehe yang udah mau tumpangin kita. Buat Hamdi atas dokumentasinya. Buat yang lain trims waktu dan kebersamaan kita ya!!!