Kisah anak-anak Gerilya
@Aliza_Fatimah
Anak-anak di kawasan gerilya
Diam memaku menggandeng batu
Membuka pandangan dengan perlawanan
Entah itu karena sakit atau dendam.
Ada tangis lugu yang merayu
Lalu, di garis merah itu mereka bersatu
Membuka sedikit sajak untuk bercakap
Selebihnya; “Mari kita intip lawan”
Nyawa mereka adalah pengabdian
Tak terbeli oleh usia
Tanpa dimengerti oleh kemanjaan
Hanya lidah kelu yang bicara
“Mari, kita berperang!”
Di belakang benteng
Mereka menghitung peluru
Bukan menghitung uang dan mainan
Mata mereka tak perlu kaget
Oleh tangis dan darah
Dibiarkan meruah seperti telaga
Dibiarkan mewarna seperti senja
Hanya satu tanya.
Mereka anak-anak biasa,
Ataukah tentara pemula?
Gambar dimabil dari realisasikankata.blogspot.com
Kalau Melly G. dan Dedi M., punya lagu apa kata dunia, saya cuma bilang apa mau dikata, dunia begitu kejam. Mujahid belia telah tumbuh tanpa pupuk. Percuma ada lembaga perlindungan anak di dunia, ada lagi lembaga yang mengatur kebijakan perdamaian dunia. Kejam tetap kejam.
Indonesia bersuara toh hanya sekelumit orang yang mendengar.
Mesir, Irak, Palestina, Madinatul Munawarah, Makkah alMukarramah... tetaplah dalam Lindungan Allah Azza wa Jalla.
Para Mujahid Cilik terus semangat!!! Mengingat kata Khalifah Umar ibnu Khatthab dan Ali ibnu Thalib: Dunia boleh di tanganmu, tapi jangan di hatimu.
Akhirat adalah tujuan kita semata.

No comments:
Post a Comment