Aku dulu sangat menyayanginya. Pertemuan
kami singkat. Tiga hari kenal, kami langsung menjadi kekasih. Namanya Faris.
Tampangnya lumayan. Orangnya loyal. Sehari setelah jadian, kami jalan-jalan ke
mall, dan langsung dihadiahi sebuah sandal. Sifatnya juga perhatian, tapi
lama-lama jadi pengekangan. Kadang aku menyebutnya otoriter.
Kami sering keliling Mataram. Tiga
bulan jalan, perasaan mulai jenuh. Apalagi saat dia meninggalkanku liburan ke
Bandung. Meski pulangnya ia membawa oleh-oleh. Sebuah baju kaos darbost
bergambar beruang merah. Ada juga serim lembaran origami kecil warna-warni yang
disusun melingkar. Faris tahu kalau aku suka menulis. Tidak hanya itu, ia
menyematkanku sebuah cincin stainless yang kalau digabungkan bertuliskan Hook
Up Heart.
Beberapa bulan berlalu, kami
jalani dengan serius. Sampai, di akhir bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 5
September 2010, aku ulang tahun. Sebuah hadiah berupa sendal merk Sophie. Wah,
lumayan menghemat keperluan lebaran.
Setahun lebih kami menjalin hubungan,
sampai akhirnya mulai renggang. Di awal Februari, aku mendapat mata kuliah PPL
(Praktik mengajar) selama 5 bulan. Aku PPL di SD Meninting, jalan menuju Pantai
Sengigi. Tempatnya jauh dari rumahku, hingga aku tinggal di rumah keluargaku
yang di Meninting. Dia tak pernah mencariku. Alasannya karena jauh. Padahal,
dulu dia sering ke Senggigi.
Di sekolah itu, aku mengenal
seorang guru yang gombalnya minta ampun. Gila. Meski dia tahu aku mempunyai
Faris, tetap saja dia mengincarku, malah ngotot dijadikan yang kedua. Orangnya
super nekat. Aku juga sebenarnya membutuhkan jasanya, karena selama PPL aku
membutuhkan banyak data. Lambat laun kami dekat. Jujur, aku masih tetap
menunggu Faris. Sampai akhirnya, tiba-tiba dia datang ke rumah dan melihat isi
pesan di ponselku. Tragis, ada sms orang gila itu yang membuatnya marah. Ia tak
sudi mendengar penjelasanku. Kami akhirnya break.
Segala hal bersama Faris menjadi
kenangan. Biarlah yang manis dikenang dan pahit akan dibuang. Terutama
barang-barangnya masih kusimpan dan kupakai. Sampai, tiba waktunya untuk hilang
sendiri. Waktu itu, aku dan orang gila itu pergi ke kampus. Tak sengaja, sendal
pemberian Faris putus. Dengan malunya, aku menunggu orang gila merekatnya
dengan lem. Meski sudah erat, sendal sebelahnya putus lagi. Akhirnya sendal itu
benar-benar tak bisa dipakai lagi. Selang beberapa waktu, aku mampir di rumah
teman kuliahku karena kehujanan. Kebetulan, kukenakan baju darbost bergambar
beruang merah. Esoknya, kulihat baju itu penuh titik-titik hitam karena lembab.
Aku pun membungkusnya, hendak membuangnya di kali. Saat keluar kamar beberapa
lembar kertas origami tercecer. Kagetnya, liukan kertas pemberian Faris itu
kini menjadi lembaran-lembaran. Adikku merobeknya, lalu menuliskan nominal uang
dari seribu sampai sepuluh ribu. Baru ia bagikan kepada teman-temannya. Hanya
tersisa selingkar cincin di jari tengahku. Aku perhatikan dengan seksama.
Cincin itu sudah memerah. Aku melepasnya. Lalu kutenggelamkan di lubang samping
rumah, yang ditutupi air hujan. Hujan, ya saat itu hujan berderai. Bersama
derai hujan semua kegersangan itu berlalu. Hilang lenyap semua tentang Faris.
Semua berubah. Hari-hariku
bersama orang gila yang kini benar-benar kugilai. Ia menggantikan Faris dengan
sekardus barangnya. Memberiku cinta seluas tanpa batas. Menjagaku selebih pandangannya.
Kami hanya berharap. Tuhan, bersama lelaki gila yang kugilai ini, hamba bisa
mereguk bahagia dengan rahmat dan anugerahMu. Bimbing kami menuju jalan
Cinta-Mu.
ya.. semoga bersama the next orang gila hidupnya lebih 'menggila' sehingga menginspirasi dan membuat 'gila' banyak orang :)
ReplyDeleteya.. akurlah dengan si 'gila' :)
ReplyDeleteHehe, gilanya itu lebih positif. Aku menyebutnya gila karena alhamdulillah jauh lebih seru dan gila (tanpa banyak beban) kalau bersamanya....
ReplyDeleteiyeee... kalo dia baca ni tulisan reaksi si gila bakalan tambah gilla (huruf L ada dua lho) saking giLLLLAnya! hahaha :)
Deletewah, punya kisah gilla juga mbak za ya... hehehehe
ReplyDeletebukan hanya kisah gila kayaknya tapi 'calon' yang juga 'gila'
DeleteNggak, gila2an aja dulu. Menjelang keseriusan menjalani kehidupan baru bersama si "gila".
Delete