Opini
TEROPONG;
PENDIDIKAN
YANG MISKIN
By: Aliza Fatimah
Generasi …
Masa depan
Tak berpendidikan…
Menyakitkan…
Pendidikan kita ini pantas menjadi soundtrack lagunya Slank.
Pendidikan adalah hal yang harus wajib kita tuntut, bahkan memperjuangkannya.
Pendidikan mengklaim dirinya menjadi nyawa kita untuk terus bertahan hidup di
era globalisasi ini. Tanpa pendidikan, maka bersiap-siaplah luluh lantak
bersama angin-angin kebodohan dan kemalasan yang perlahan-lahan membunuh kita.
Klise pendidikan kita masih memilah
siapa yang berhak menjadi pelajar. Orang beruang walau berotak udang, masih
bisa mengenyam pendidikan. Namun, banyak otak berbintang, malah tak bisa
menyinari pendidikan kita karena tipisnya ekonomi. Pendidikan kita sangat
miskin. Miskin dengan orang-orang haus pendidikan. Tapi miskin dengan jiwa-jiwa
pemerintah yang melek ilmu pengetahuan, dan miskin cahaya-cahaya yang
memancarkan kecerdasan.
Intinya, jelas pendidikan sulit
menjadi milik kita semua. Yang bisa sekolah adalah mereka yang mempunyai modal
uang dan kekuasaan. Segala cara dihalalkan agar bisa masuk ke
sekolah-sekolah/universitas-universitas yang diinginkan, walaupun nilai mereka
rendah dan tak layak untuk mengenyam pendidikan di sana. Tetapi dengan adanya
“pelicin”, maka masuk lewat jalur tikus pun pasti bisa.
Jadi, pendidikan kita sangat mudah
dilicinkan oleh segala bentuk cara tetap dikategorikan ‘pencuri’, karena
megambil hak orang lain. Hal-hal seperti itu sudah sangat lazim dan populer
sekali, bahkan menjadi prestasi yang membanggakan bagi penganutnya. Tapi
tahukah akibat dari semua itu? Pendidikan kita semakin sakit, gersang dan
miskin akibat injeksi-injeksi mematikan, yang semakin membuat parah
kerangka-kerangka tubuh pendidikan kita.
Pendidikan yang miskin, tak kan jauh
asalnya dari miskinnya sistem pendidikan kita. Memang, pemerintah sama sekali
tidak bisa disalahkan 100%, kendati pemerintah memang harus bertanggung jawab
atas malapetaka besar ini. Kitalah di sini bersama pemerintah dan masyarakat
harus aktif, mengasah-mengasih untuk membangun pendidikan bermutu, dan dicicipi
oleh seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke.
Miskinnya pendidikan kita sekarang,
juga dilatarbelakangi oleh para pakar pendidikan di Indonesia yang kurang
gencar mempelopori pergerakan roda pendidikan. Akibatnya, mutu pendidikan kita
lambat bergerak, kutuan di kandang sendiri. Jangan marah jika PBB memberikan
peringkat untuk bidang pendidikan United Nation Educational, Scientific, and
Cultural Organization (UNESCO) mencatat perihal pendidikan Indonesia dengan
rangking turun dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. Indonesia di
bawah Brunei, dan mirisnya lagi ada di bawah Malaysia yang dulu murid
Indonesia.
Lalu prestasi apa yang selalu
dijuarai Indonesia? Jawabannya: juara umum agen pencetak dan pemelihara
tikus-tikus berdasi. Pelopor pengekspor TKI terbanyak. Pemegang sabuk emas
mencetak generasi-generasi yang miskin pendidikan.
Kondisi pendidikan kita memang butuh
suatu konstruksi serta pembaharuan. Mulai dari sang guru yang sangat urgen
dalam hal ini. Guru adalah pelopor emas pendidikan, tapi sayangnya selalu
terpojokkan dalam masalah ini. Kadang terkendala oleh masalah biaya, tenaga,
bahkan ketertekanan akibat sistem pendidikan kita.
Penulis teringat oleh hangatnya air
mata seorang guru senior di SMA, yang menangis tentang keadaan ini. Yang saya
potret dari wajah kecewa beliau, beliau merasa tertekan, dan ketertekanan itu
lahir dari sistem pendidikan kita. Beliau sebagai guru merasa kurang
dipercayai, karena pada saat itu diadakan ujian semesterdan try out. Hal
yang menyakitkan adalah guru yang mengajari mata pelajaran yang sama dengan
materi yang diujikan pada saat itu tidak boleh jadi pengawas. Alasan bodohnya,
takut nanti guru memberi tahu siswa. Masya Allah, benar-benar
kepercayaan guru sebagai pendidik dan pelita telah krisis. Adanya miskin
kepercayaan terhadap sesama.
Lain lagi dengan miskinnya mutualisme pendidikan kita. Pemerintah
kecewa dengan mutu dan profesionalitas guru sekarang ini. Maka dari itu,
pemerintah, mengambil kebijakan program penyetaraan guru D2 ke S1, serta
profesi keguruan. Adanya kebijakan seperti ini (terutama guru SD yang D2)
menjadi terbebani. Program penyetaraan jarak jauh ini harus diikuti jikalau tak
mau dimutasi. Terpaksa, guru harus mengeluarkan biaya lagi. Keterpaksaan yang
tentu tak dibarengi dengan rasa ikhlas. Program penyetaraan yang berujung pada
formalitas dan tuntutan belaka. Sehingga terjadi penyetaraan ijazah, bukan pada
peningkatan iptek dan kecakapan intelek, profesionalitas, dan semangat
mengajar.
Dari teropong ini, lahirlah kesan-kesan yang negatif, di antaranya:
Pertama karena penyetaraan itu bersifat proyek dan takut dimutasi, maka mereka
mengabaikan kualitas tujuan pendidikan, melainkan kuantitas semata. Kedua,
bisakah mengakselerasikan program ini bagi guru yang berada di bawah gaji yang
rendah? Ketiga, adakah rasa penghargaan dari hasil penyetaraan ini kepada
guru-guru? Keempat, bagaimana kemudian dengan para lulusan D2 dan D3 yang
sampai saat ini belum diangkat menjadi guru negeri?
Kebijakan-kebijakan pemerintah seperti itu kesannya malah akan
membuat sistem pendidikan kita semakin mahal di tengah kemiskinan yang melanda.
Karena, di bawah kebijakan itu sang guru harus mencari tambahan dari luar. Tak
heran jika ada guru yang menjadi petani, tukang ojek, bahkan pedagang. Bahkan
ada pula yang berhutang, agar mereka tak terancam mutasi.
Hal itu tak semata-semata akan berdampak pada ekonomi, bahkan
langsung pada anak didik. Bayangkan saja, sang guru berdiri di depan kelas
dengan bayangan hutang yang menumpuk dan tiap bulan gaji terus dipotong. Jadi
jangan heran bila guru berpikir lain, yaitu bagaimana caranya mendapatkan
tambahan uang untuk bayar hutang dan menambal kebutuhan sehari-hari. Jika hal
ini terus membayang-bayangi guru, lalu bagaimana nasib anak didik mereka.
Padahal, Earl Pullians dan James D Young sosok personalia yang serba bisa, untuk
membantu laju pertumbuhan murid secara terus-menerus.
Di antaranya: pertama, guru dapat hadir bila para pelajar
memerlukannya. Kedua, guru dengan senantiasa berbagi pengalaman yang luas
sehingga pelajar bisa mengevaluasi dirinya dengan belajar dari pengalaman,
karena guru pasti siap menyatakan akan menjadi apa kita selanjutnya. Ketiga,
guru dapat membimbing pelajar dengan bercermin pada kondisi secara bebas dan
jujur dari berbagai sudut pandang. Keempat, guru dapat menyimpan dalam
pikirannya seluruh proses perkembangan manusiawi dan mencoba melihat hubungan
itu dari berbagai aneka derajat dan segi-segi kehidupan sejak lahir sampai
mati. Dengan lakon-lakon seperti itu, guru bisa menjadi sosok yang berwibawa
dan dijadikan ‘guru yang baik’. Guru yang baik adalah guru yang bukan hanya bia
menyampaikan pelajaran saja, tapi juga menyampaikan keahlian dan nilai-nilai.
Nilai-nilai yang mencakup kesadaran kritis, karena guru pada hakikatnya adalah
seorang politikus, yang selalu kritis oleh masalah-masalah sosial yang ingin
diajari pada murid, tapi karena kesendatan sistem ini, maka guru sekarang hanya
tunduk pada birokrasi-birokrasi negara. Tak heran jika guru-guru hidup di bawah
cengkeraman birokrat-birokrat, akan menjadikan guru dengan seribu pandangan.
Pihak lain yang memiskinkan pendidikan kita adalah para birokrat,
yang menyebabkan pendidikan kita menjadi pangsa pasar, yang tak lain karena
perhatian pemerintah. Hal ini bisa kita identifikasikan dari melihat anggaran
pendidikan yang disediakan sangat kecil sehingga pendidikan yang disediakan
adalah pendidikan yang remeh, kritikan-kritikan datang yang tiap saat tak
pernah ditanggapi dengan serius. Tak heran jika orang-orang legislatif
melahirkan kebijakan yang kesannya mengkomersialkan pendidikan, yaitu dengan
lahirnya Badan Hukum Pendidikan (BHP). Ironis memang banyak yang meramalkan,
dengan lahirnya kebijakan ini bukan untuk mengatur pendidikan kita, malah akan
menjadi ‘Bom Penghancur Pendidikan’.
Bayangkan saja, uang akan menjadi raja di segala jalur pendidikan
kita nantinya. Masuk kuliah harus membeli puluhan meja administrasi. Saat
kuliah, mengambil SKS harus dengan uang. Middle semester ikut pula
diuangkan. Kita akan sibuk dengan administrasi keuangan pendidikan kuliah kita,
bukan dengan proses kegiatan perkuliahan. Pemerintah memang telah bangkrut
membiayai pendidikan kita yang miskin ini. Akankah kita diam saja menghirup
racun-racun kemiskinan kita?
No comments:
Post a Comment