May 31, 2013

Opini 7 tahun yang lalu...

Opini

TEROPONG;
PENDIDIKAN YANG MISKIN
                                                      By: Aliza Fatimah

Generasi …
Masa depan
Tak berpendidikan…
Menyakitkan…
                       
Pendidikan kita ini pantas menjadi soundtrack lagunya Slank. Pendidikan adalah hal yang harus wajib kita tuntut, bahkan memperjuangkannya. Pendidikan mengklaim dirinya menjadi nyawa kita untuk terus bertahan hidup di era globalisasi ini. Tanpa pendidikan, maka bersiap-siaplah luluh lantak bersama angin-angin kebodohan dan kemalasan yang perlahan-lahan membunuh kita.
            Klise pendidikan kita masih memilah siapa yang berhak menjadi pelajar. Orang beruang walau berotak udang, masih bisa mengenyam pendidikan. Namun, banyak otak berbintang, malah tak bisa menyinari pendidikan kita karena tipisnya ekonomi. Pendidikan kita sangat miskin. Miskin dengan orang-orang haus pendidikan. Tapi miskin dengan jiwa-jiwa pemerintah yang melek ilmu pengetahuan, dan miskin cahaya-cahaya yang memancarkan kecerdasan.
            Intinya, jelas pendidikan sulit menjadi milik kita semua. Yang bisa sekolah adalah mereka yang mempunyai modal uang dan kekuasaan. Segala cara dihalalkan agar bisa masuk ke sekolah-sekolah/universitas-universitas yang diinginkan, walaupun nilai mereka rendah dan tak layak untuk mengenyam pendidikan di sana. Tetapi dengan adanya “pelicin”, maka masuk lewat jalur tikus pun pasti bisa.
            Jadi, pendidikan kita sangat mudah dilicinkan oleh segala bentuk cara tetap dikategorikan ‘pencuri’, karena megambil hak orang lain. Hal-hal seperti itu sudah sangat lazim dan populer sekali, bahkan menjadi prestasi yang membanggakan bagi penganutnya. Tapi tahukah akibat dari semua itu? Pendidikan kita semakin sakit, gersang dan miskin akibat injeksi-injeksi mematikan, yang semakin membuat parah kerangka-kerangka tubuh pendidikan kita.
            Pendidikan yang miskin, tak kan jauh asalnya dari miskinnya sistem pendidikan kita. Memang, pemerintah sama sekali tidak bisa disalahkan 100%, kendati pemerintah memang harus bertanggung jawab atas malapetaka besar ini. Kitalah di sini bersama pemerintah dan masyarakat harus aktif, mengasah-mengasih untuk membangun pendidikan bermutu, dan dicicipi oleh seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke.
            Miskinnya pendidikan kita sekarang, juga dilatarbelakangi oleh para pakar pendidikan di Indonesia yang kurang gencar mempelopori pergerakan roda pendidikan. Akibatnya, mutu pendidikan kita lambat bergerak, kutuan di kandang sendiri. Jangan marah jika PBB memberikan peringkat untuk bidang pendidikan United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) mencatat perihal pendidikan Indonesia dengan rangking turun dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. Indonesia di bawah Brunei, dan mirisnya lagi ada di bawah Malaysia yang dulu murid Indonesia.
            Lalu prestasi apa yang selalu dijuarai Indonesia? Jawabannya: juara umum agen pencetak dan pemelihara tikus-tikus berdasi. Pelopor pengekspor TKI terbanyak. Pemegang sabuk emas mencetak generasi-generasi yang miskin pendidikan.
            Kondisi pendidikan kita memang butuh suatu konstruksi serta pembaharuan. Mulai dari sang guru yang sangat urgen dalam hal ini. Guru adalah pelopor emas pendidikan, tapi sayangnya selalu terpojokkan dalam masalah ini. Kadang terkendala oleh masalah biaya, tenaga, bahkan ketertekanan akibat sistem pendidikan kita.
            Penulis teringat oleh hangatnya air mata seorang guru senior di SMA, yang menangis tentang keadaan ini. Yang saya potret dari wajah kecewa beliau, beliau merasa tertekan, dan ketertekanan itu lahir dari sistem pendidikan kita. Beliau sebagai guru merasa kurang dipercayai, karena pada saat itu diadakan ujian semesterdan try out. Hal yang menyakitkan adalah guru yang mengajari mata pelajaran yang sama dengan materi yang diujikan pada saat itu tidak boleh jadi pengawas. Alasan bodohnya, takut nanti guru memberi tahu siswa. Masya Allah, benar-benar kepercayaan guru sebagai pendidik dan pelita telah krisis. Adanya miskin kepercayaan terhadap sesama.
Lain lagi dengan miskinnya mutualisme pendidikan kita. Pemerintah kecewa dengan mutu dan profesionalitas guru sekarang ini. Maka dari itu, pemerintah, mengambil kebijakan program penyetaraan guru D2 ke S1, serta profesi keguruan. Adanya kebijakan seperti ini (terutama guru SD yang D2) menjadi terbebani. Program penyetaraan jarak jauh ini harus diikuti jikalau tak mau dimutasi. Terpaksa, guru harus mengeluarkan biaya lagi. Keterpaksaan yang tentu tak dibarengi dengan rasa ikhlas. Program penyetaraan yang berujung pada formalitas dan tuntutan belaka. Sehingga terjadi penyetaraan ijazah, bukan pada peningkatan iptek dan kecakapan intelek, profesionalitas, dan semangat mengajar.
Dari teropong ini, lahirlah kesan-kesan yang negatif, di antaranya: Pertama karena penyetaraan itu bersifat proyek dan takut dimutasi, maka mereka mengabaikan kualitas tujuan pendidikan, melainkan kuantitas semata. Kedua, bisakah mengakselerasikan program ini bagi guru yang berada di bawah gaji yang rendah? Ketiga, adakah rasa penghargaan dari hasil penyetaraan ini kepada guru-guru? Keempat, bagaimana kemudian dengan para lulusan D2 dan D3 yang sampai saat ini belum diangkat menjadi guru negeri?
Kebijakan-kebijakan pemerintah seperti itu kesannya malah akan membuat sistem pendidikan kita semakin mahal di tengah kemiskinan yang melanda. Karena, di bawah kebijakan itu sang guru harus mencari tambahan dari luar. Tak heran jika ada guru yang menjadi petani, tukang ojek, bahkan pedagang. Bahkan ada pula yang berhutang, agar mereka tak terancam mutasi.
Hal itu tak semata-semata akan berdampak pada ekonomi, bahkan langsung pada anak didik. Bayangkan saja, sang guru berdiri di depan kelas dengan bayangan hutang yang menumpuk dan tiap bulan gaji terus dipotong. Jadi jangan heran bila guru berpikir lain, yaitu bagaimana caranya mendapatkan tambahan uang untuk bayar hutang dan menambal kebutuhan sehari-hari. Jika hal ini terus membayang-bayangi guru, lalu bagaimana nasib anak didik mereka. Padahal, Earl Pullians dan James D Young  sosok personalia yang serba bisa, untuk membantu laju pertumbuhan murid secara terus-menerus.
Di antaranya: pertama, guru dapat hadir bila para pelajar memerlukannya. Kedua, guru dengan senantiasa berbagi pengalaman yang luas sehingga pelajar bisa mengevaluasi dirinya dengan belajar dari pengalaman, karena guru pasti siap menyatakan akan menjadi apa kita selanjutnya. Ketiga, guru dapat membimbing pelajar dengan bercermin pada kondisi secara bebas dan jujur dari berbagai sudut pandang. Keempat, guru dapat menyimpan dalam pikirannya seluruh proses perkembangan manusiawi dan mencoba melihat hubungan itu dari berbagai aneka derajat dan segi-segi kehidupan sejak lahir sampai mati. Dengan lakon-lakon seperti itu, guru bisa menjadi sosok yang berwibawa dan dijadikan ‘guru yang baik’. Guru yang baik adalah guru yang bukan hanya bia menyampaikan pelajaran saja, tapi juga menyampaikan keahlian dan nilai-nilai. Nilai-nilai yang mencakup kesadaran kritis, karena guru pada hakikatnya adalah seorang politikus, yang selalu kritis oleh masalah-masalah sosial yang ingin diajari pada murid, tapi karena kesendatan sistem ini, maka guru sekarang hanya tunduk pada birokrasi-birokrasi negara. Tak heran jika guru-guru hidup di bawah cengkeraman birokrat-birokrat, akan menjadikan guru dengan seribu pandangan.
Pihak lain yang memiskinkan pendidikan kita adalah para birokrat, yang menyebabkan pendidikan kita menjadi pangsa pasar, yang tak lain karena perhatian pemerintah. Hal ini bisa kita identifikasikan dari melihat anggaran pendidikan yang disediakan sangat kecil sehingga pendidikan yang disediakan adalah pendidikan yang remeh, kritikan-kritikan datang yang tiap saat tak pernah ditanggapi dengan serius. Tak heran jika orang-orang legislatif melahirkan kebijakan yang kesannya mengkomersialkan pendidikan, yaitu dengan lahirnya Badan Hukum Pendidikan (BHP). Ironis memang banyak yang meramalkan, dengan lahirnya kebijakan ini bukan untuk mengatur pendidikan kita, malah akan menjadi ‘Bom Penghancur Pendidikan’.
Bayangkan saja, uang akan menjadi raja di segala jalur pendidikan kita nantinya. Masuk kuliah harus membeli puluhan meja administrasi. Saat kuliah, mengambil SKS harus dengan uang. Middle semester ikut pula diuangkan. Kita akan sibuk dengan administrasi keuangan pendidikan kuliah kita, bukan dengan proses kegiatan perkuliahan. Pemerintah memang telah bangkrut membiayai pendidikan kita yang miskin ini. Akankah kita diam saja menghirup racun-racun kemiskinan kita?




No comments:

Post a Comment