Feb 26, 2013

Strategi berbahasa kels rendah


STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA LISAN
DENGAN BERMAIN TEBAK-TEBAKAN

PENDAHULUAN
Pada mata pelajaran bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan atau kompetensi yang harus dicapai, di antaranya keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan penguasaan keempat keterampilan tersebut diharapkan siswa mampu berkomunikasi dengan baik. Kompetensi tersebut saling berkaitan dan berkesinambungan, demi mendidik siswa agar unggul dalam berbahasa, sehingga tercapainya kecakapan hidup (life skill).
Untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan, guru harus bisa menentukan metode apa yang akan digunakan untuk menyampaikan bahan pengajarannya. Dalam makalah ini, penyusun akan membahas bagaimana bahan pengajaran bahasa Indonesia pada kelas rendah untuk stategi pembelajaran bahasa lisan dan penerapannya melalui bermain tebak-tebakan.

PEMBAHASAN
A. Bahasa Lisan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Menyimak dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa lisan yang amat fungsional dalam kehidupan manusia sehari-hari. Betapa tidak karena dengan menyimak dan berbicara kita dapat memperoleh dan menyampaikan informasi. Dalam kegiatan komunikasi lisan, kegiatan menyimak dan berbicara merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu, sangatlah beralasan bila setiap orang, lebih-lebih siswa, dituntut keterampilannya untuk mampu menyimak dan berbicara dengan baik.
Melatih dan meningkatkan keterampilan siswa dalam berbahasa lisan merupakan salah satu tugas guru. Guru yang berpengalaman dan kreatif rasanya tidak akan mengalami kesulitan dalam memilih strategi yang tepat untuk melaksanakan tugas itu.
Agar strategi yang dipilih dan diterapkan dapat mencapai sasarannya perlu diperhatikan beberapa prinsip yang melandasi pembelajaran berbahasa lisan sebagai berikut ini.
1.      Pengajaran keterampilan berbahasa lisan harus mempunyai tujuan yang jelas yang diketahui oleh guru dan siswa.
2.      Pengajaran keterampilan berbahasa lisan disusun dari yang sederhana ke yang lebih kompleks sesuai denagan tingkat perkembangan bahasa siswa.
3.      Pengajaran keterampilan berbahasa lisan harus mampu menumbuhkan partisipasi aktif terbuka pada diri siswa.
4.      Pengajaran keterampilan berbahasa lisan harus benar-benar mengajar bukan menguji. Artinya, skor yang diperoleh siswa harus dipandang sebagai balikan bagi guru.

Guru yang sudah mengenal, mengetahui, menghayati, dan dapat menerapkan pelbagai strategi pembelajaran berbahasa lisan memiliki rasa percaya diri yang kuat sehingga kinerjanya di kelas jauh lebih mantap dan meyakinkan. Guru seperti ini sudah dapat dipastikan bahwa dia mampu membangun suasana belajar yang baik dan dapat memusatkan perhatian siswa pada materi pelajaran sehingga hasil belajar yang dicapainya bermakna bagi diri siswa itu sendiri.
Agar pembelajaran berbahasa lisan memperoleh hasil yang baik, strategi pembelajaran yang digunakan guru harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Relevan dengan tujuan pembelajaran.
2. Menantang dan merangsang siswa untuk belajar.
3. Mengembangkan kreativitas siswa secara individual ataupun kelompok.
4. Memudahkan siswa memahami materi pelajaran.
5. Mengarahkan aktivitas belajar siswa kepada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
6. Mudah diterapkan dan tidak menuntut disediakannya peralatan yang rumit.
7. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.



B. Bermain Tebak-tebakan sebagai Strategi Berbahasa Lisan
Salah satu strategi pembelajaran berbahasa lisan yaitu bermain tebak-tebakan. Bermain tebak-tebakan dapat kita laksanakan dengan berbagai cara. Cara yang sederhana, guru mendeskripsikan secara lisan suatu benda tanpa menyebutkan nama bendanya. Tugas siswa menerka nama benda itu.
Contoh bermain tebak-tebakan dalam pembelajaran bahasa lisan, antara lain, yaitu:
Tebakan 1
Guru : “Anak-anak Ibu punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan dengan seksama, nanti kalau ada yang tau jawabannya langsung acungkan tangan dan langsung jawab, kalian mengerti?”
Siswa : “Mengerti, Bu Guru!”
Guru : “Bagus! Dengarkan, siapa aku. Aku sangat diperlukan untuk lalu lintas. Banyak tempat dan kota yang kuhubungkan. Berbagai jenis mobil lewat di punggungku. Aku dikeraskan dengan batu dan aspal. Silakan terka, siapa aku!”       
Siswa : “ Jalan raya!”
Tebakan 2
Guru : “ Anak-anak Bapak punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan, Pak Guru akan melukiskan suatu benda. Siapa yang mengetahui benda yang Pak Guru maksudkan, segera acungkan tangan!”
Siswa : Siap, Pak Guru!”
Guru : “Bagus!” Dengarkan, di sana ada sebuah tempat berair. Bentuknya memanjang dan berliku-liku. Air dari sana diperlukan oleh petani. Di dalamnya kadang-kadang banyak ikan. Silakan terka, apa nama tempat itu!”
Siswa: “ Sungai!”
Tebakan 3
Guru : “ Anak-anak Ibu punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan, dengan seksama, nanti kalau ada yang tau jawabannya langsung acungkan tangan dan langsung jawab, kalian mengerti?”
Siswa : “ Mengerti, Bu Guru!”
Guru : “Bagus! Dengarkan, ada sejenis burung yang indah. Jenis burung ini suka menari. Bila menari, ekornya seperti kipas. Jenis burung ini sukar didapat. Silakan terka, Burung itu namanya!”
Siswa :“ Merak!”

Agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, sehingga materi juga cepat tersampaikan pada siswa, maka banyak modifikasi yang dapat dilakukan guru utuk permaina tebak-tebakan ini. Misalnya, untuk menebak benda atau sesuatu yang ditulis guru di beakang papan tulis, secara bergantian siswa mengajukan pertanyaan yang hanya dijawab dengan “ya” atau “tidak” oleh guru. Sebaiknya jumlah pertanyaan yang diajukan siswa tidak boleh lebih dari dua puluh buah. Setelah itu, siswa diminta untuk menebak benda yang dimaksudkan guru dengan cara meresume jawaban pertanyaan yang telah diaujukan. Agar pembelajaran semakin menarik, bagilah kelas ke dalam beberapa kelompok.
Contoh:
Guru menulis nama binatang, misalnya ayam, di belakang papan tulis.
Guru              : “Saya telah menuliskan nama benda di belakang papan tulis. Ajukan paling banyak dua puluh pertanyaan yang akan pak guru jawab dengan ya atau tidak/bukan. Silakan regu I bertanya dulu.
Regu I           : “Benda mati?”
Guru              : “Bukan. Regu II”
Regu II         : “Nama binatang”
Guru              : “Ya!”
Regu I           : “Binatang itu berkaki empat.”
Guru              : “Tidak”
Regu II         : “Berkaki dua.”
Guru              :“Ya.”
Regu I           : “Binatang itu bersayap?”
Guru              : “Ya”
Setelah dua puluh pertanyaan oleh regu I dan regu II, guru menyilahkan setiap regu menebak nama binatang itu, misalnya :
Regu I           : “Dari jawaban yang kami peroleh, benda itu termasuk binatang berkaki dua, bersayap, berparuh, dagingnya biasa dimakan orang, maka binatang yang dimaksud adalah itik.”
Regu II         : “Jawaban yang kami peroleh menyatakan bahwa benda yang dimaksud adalah nakhluk hidup, sejenis binatang, bersayap, berparuh, tidak dapat terbang jauh, dagingnya biasa dimakan orang. Kami berkesimpoulkan binatang itu adalah ayam”
Guru    (membalikkan papan tulis): “Baik, mari kita lihat siapa pemenangnya!”

No comments:

Post a Comment