Jun 27, 2013

Mengawali Langkah Sangguru

Bismillaah...
Bukannya sok alim, tapi setidaknya ada keberkahan nantinya seusai membaca isi blog ini. Sepertinya kita mesti menyepakati satu hal deh. SangGuru.com tak akan bertele-tele dan tidak berani menggurui. Hanya saja membagi pengalaman hidup yang dianggap sepele. Semoga apapun yang ditulis bisa dijadikan pelajaran ya. Mari kita sepakati perjanjian SangGuru. Kami, dengan ini menyepakati bahwa:
  1. Tidak ada unsur pengguruan dan penjajahan ketika membaca blog, hanya unsur saling suka tanpa iseng.
  2. Wajib sebaiknya mengucap bismillah sebelum membaca dan alhamdulillah setelah dibaca karena ditakutkan keracunan setelah membaca blog ini.
  3. Akan dibaca dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mengingat mahalnya biaya internetan dan hematnya baterai.
  4. Menyepakati hal berikut: “Kita sepakat hidup itu indah jika: setiap gambar adalah lukisan, setiap gerak adalah tari, setiap suara adalah musik, maka setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah”.

Ya, sudah mulai enak dah bacanya.
Kisah ini saya awali saat membuka diary saya sewaktu SMP. Waduh, resmi sekali kalau bilang saya. Zei aja ya enaknya...

Foto-foto diary ini adalah contoh dari beberapa diary yang masih awet. Sedari kelas enam SD sampe sekarang. Bayangkan, 13 tahun yang lalu masih tersimpan rapi. Sekarang ini saya agak enggan membacanya, buan karena tulisannya jelek, tapi isinya norak Wah, kebayang deh, zaman dulu sangat norak. Hehehe. Belajar menulis tanpa ada pegangan. Tulisannya rata-rata berisi patah hati... Ceila, satu hal yang bisa saya tanggap, sekaligus sebagai kontemplasi, dulu saya mengadu pada diary, jauh dari Allah, Penciptaku. Wah, berarti dulu aku suka mengeluh. Ada hal yang lebih parah lagi. Aku sengaja membuat tulisan sandi untuk tulisan yang benar-benar rahasia. Eh, malah sekarang aku tidak bisa membacanya. Kontemplasi yang bisa kupetik, aku tidak konsisten dan berburu nafsu, sehingga lupa bagaimana cara membacanya.

Dulu aku juga orangnya puitis, tapi sekarang malah realistis, langsung berbahasa sesuai realita, tanpa mengolah menjadi lebih indah. So simple. Aku suka menulis puisi, bahkan nama orangpun aku jadikan puisi. Puisi zaman SMP karakternya cinta dan kebanggaan.

Semenjak SMA, aku lebih serius, tapi sedikit catatan yang kutulis. Malah hampir dibilang tak ada. Owh, SMAku lenyap begitu saja. Hanya, beberapa foto yang menyiratkan masa-masa SMA itu. Hahaha, jadi kelihatan culunnya.

Aku sempat kehilangan beberapa memory tentang masa-masa SMA. Habisnya, SMA tidak seseru SMP. Di SMP menyerukan sekali. Ingatku dulu aku mempunyai genk, namanya NEXAT Group. Hahaha, kalau ada group-group gitu kayak mau kasidahan saja. Ada juga genk Tama. Tahu Mania. Konon, mereka suka memborong tahu isi di kantin. Bahkan, kalau belum puas, mereka membelinya sampai di warung persimpangan yang lumayan jauh dari sekolah. Gaya alay anak zaman dulu sudah pintar berbahasa dengan banyak istilah. Salahnya, dulu kami sudah mengenal istilah nyimenk. Tapi eits, cimenk ala kami itu buah jeruk yang kecil-kecil super kecut. Enaknya dimakan sama orang ngidam lalu dicelupkan di garam. Jadilah cimenk asam asin. Lain lagi ulah salah satu personil genk Tama yang ikut arisan dengan teman-teman sekelas. Setelah dia dapat undian, untuk seterusnya dia gak mau bayar. Terpaksa pas giliran namaku keluar di lot, aku mengubernya sampai lantai 2 bangunan lab di belakang sekolahku yang angker. Terakhir ketemu, dia menjadi orang hebat.
Di masa SMA, aku kayaknya lebih serius dan tegang. Maklum, SMA Favorit tidak terlalu banyak jam kosong yang bisa digunakan main-main. Ingatku, aku ikut remush (meski sebentar), eksis di PMR, dan LKIR. Wah, aktif di akademik ya. Tapi ujung-ujungnya di raport selalu saja peringkatku berkisar antara 10-20. MEMALUKAN.

Selepas SMA, aku masuk di salah satu PTN terekenal. Yah, meski nomor satu hanya di NTB. Di seluruh Indonesia entah keberapa puluh. Aku bangga. Lumayan murah dan ringan. Jadi, aku mengisi waktu kuliah dengan ikut organisasi, mulai dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), LPM (Lembaga Pers Mahasiswa). Lumayan kan, daripada lumanyun!!!

Aku juga bisa kerja sambilan kuliah. Yah, meski menjadi juru ketik dan penjaga rental di samping kosku. Akhir semester aku mencoba-caba menjadi penyiar radio. Hanya bertahan beberapa bulan. Hehehe. Gak betah bercuap-cuap. Enaknya menulis, lalu dapat uang. Aku jadi pemburu lomba esai dan cerpen. Banyak lho, karyaku. Tapi untuk konsumsi pribadi saja. Nah, sambilan tuh aku juga bekerja menjadi wanita panggilan (HARAP JANGAN NEGATIF THINGKING). Wanita panggilan adalah sebuah profesi mulia yang dipanggil ke setiap rumah untuk mengajari anak-anak. Ribet ya! Padahal simplenya guru private. Hmmmmm...

Akhir kulaih, aku tak sempat jadi pengangguran. Langsung magang di SD terkenal mewah di Mataram. Tapi Cuma satu semester. DI akhir pembagian raport aku langsung keluar. Masalah besar telah terjadi. ANTARA KEKEJAMAN DAN KEKELIRUAN. Biarlah, Maha Eksekutor Tertinggi yang akan Menghakimi.


Tak terbayangkan hikmah yang aku dapatkan dengan buah kesabaran ini. Mendapatkan sekolah yang lebih baik 180° dari yang dulu. Salerynya juga sangat berperikemanusiaan. Waktunya melebihi kemakmuran para pekerja. Alhamdulillah wasyukurillah yang sebesar-besarnya. Mengapa Allah menghadiahiku tempat yang semulia itu? Mungkin, aku hanya meminta pertolongan hanya kepadaNya. Aku juga tak mendendam dengan apa yang di sekolah yang dulu. Aku juga berusaha sendiri untuk mencari sesuai dengan pilihanku. Yang terpenting, orang tuaku selalu mendoakanku dan mendukung setipa keputusan yang kuambil. Barakallahu...


2 comments:

  1. Anonymous6/28/2013

    alhamdulillah udah baca bismillah *ngusep dada selamat dari racun :) berarti kita sama pernah dan (sekarang masih se) menjadi pemburu lomba menulis :)
    Btw, nama NEXAT group lumayan :p

    ReplyDelete
  2. Hehe, iya tuh! Mengawali dengan Bismillah untuk mendapatklan keberkahan. NEXAT nama singkatan 5 temen Gue...

    ReplyDelete