STRATEGI PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA LISAN
DENGAN BERMAIN
TEBAK-TEBAKAN
PENDAHULUAN
Pada mata pelajaran bahasa
Indonesia terdapat empat keterampilan atau kompetensi yang harus dicapai, di
antaranya keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan
penguasaan keempat keterampilan tersebut diharapkan siswa mampu berkomunikasi
dengan baik. Kompetensi tersebut saling berkaitan dan berkesinambungan, demi
mendidik siswa agar unggul dalam berbahasa, sehingga tercapainya kecakapan
hidup (life skill).
Untuk mencapai standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang telah ditentukan, guru harus bisa menentukan metode
apa yang akan digunakan untuk menyampaikan bahan pengajarannya. Dalam makalah
ini, penyusun akan membahas bagaimana bahan pengajaran bahasa Indonesia pada
kelas rendah untuk stategi pembelajaran bahasa lisan dan penerapannya melalui
bermain tebak-tebakan.
PEMBAHASAN
A. Bahasa Lisan dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Menyimak dan berbicara merupakan
keterampilan berbahasa lisan yang amat fungsional dalam kehidupan manusia
sehari-hari. Betapa tidak karena dengan menyimak dan berbicara kita dapat
memperoleh dan menyampaikan informasi. Dalam kegiatan komunikasi lisan,
kegiatan menyimak dan berbicara merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan. Oleh
karena itu, sangatlah beralasan bila setiap orang, lebih-lebih siswa, dituntut
keterampilannya untuk mampu menyimak dan berbicara dengan baik.
Melatih dan meningkatkan
keterampilan siswa dalam berbahasa lisan merupakan salah satu tugas guru. Guru
yang berpengalaman dan kreatif rasanya tidak akan mengalami kesulitan dalam
memilih strategi yang tepat untuk melaksanakan tugas itu.
Agar strategi yang dipilih dan
diterapkan dapat mencapai sasarannya perlu diperhatikan beberapa prinsip yang
melandasi pembelajaran berbahasa lisan sebagai berikut ini.
1. Pengajaran
keterampilan berbahasa lisan harus mempunyai tujuan yang jelas yang diketahui
oleh guru dan siswa.
2. Pengajaran
keterampilan berbahasa lisan disusun dari yang sederhana ke yang lebih kompleks
sesuai denagan tingkat perkembangan bahasa siswa.
3. Pengajaran
keterampilan berbahasa lisan harus mampu menumbuhkan partisipasi aktif terbuka
pada diri siswa.
4. Pengajaran
keterampilan berbahasa lisan harus benar-benar mengajar bukan menguji. Artinya,
skor yang diperoleh siswa harus dipandang sebagai balikan bagi guru.
Guru yang sudah mengenal,
mengetahui, menghayati, dan dapat menerapkan pelbagai strategi pembelajaran
berbahasa lisan memiliki rasa percaya diri yang kuat sehingga kinerjanya di kelas
jauh lebih mantap dan meyakinkan. Guru seperti ini sudah dapat dipastikan bahwa
dia mampu membangun suasana belajar yang baik dan dapat memusatkan perhatian
siswa pada materi pelajaran sehingga hasil belajar yang dicapainya bermakna
bagi diri siswa itu sendiri.
Agar pembelajaran berbahasa lisan
memperoleh hasil yang baik, strategi pembelajaran yang digunakan guru harus
memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Relevan dengan
tujuan pembelajaran.
2. Menantang dan
merangsang siswa untuk belajar.
3. Mengembangkan kreativitas
siswa secara individual ataupun kelompok.
4. Memudahkan siswa
memahami materi pelajaran.
5. Mengarahkan aktivitas
belajar siswa kepada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
6. Mudah diterapkan dan
tidak menuntut disediakannya peralatan yang rumit.
7. Menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan.
B.
Bermain Tebak-tebakan sebagai Strategi Berbahasa Lisan
Salah satu strategi pembelajaran
berbahasa lisan yaitu bermain tebak-tebakan. Bermain tebak-tebakan dapat kita
laksanakan dengan berbagai cara. Cara yang sederhana, guru mendeskripsikan
secara lisan suatu benda tanpa menyebutkan nama bendanya. Tugas siswa menerka
nama benda itu.
Contoh bermain tebak-tebakan dalam
pembelajaran bahasa lisan, antara lain, yaitu:
Tebakan 1
Guru
: “Anak-anak Ibu punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan dengan seksama, nanti
kalau ada yang tau jawabannya langsung acungkan tangan dan langsung jawab,
kalian mengerti?”
Siswa
: “Mengerti, Bu Guru!”
Guru
: “Bagus! Dengarkan, siapa aku. Aku sangat diperlukan untuk lalu lintas. Banyak
tempat dan kota
yang kuhubungkan. Berbagai jenis mobil lewat di punggungku. Aku dikeraskan
dengan batu dan aspal. Silakan terka, siapa aku!”
Siswa : “ Jalan raya!”
Tebakan
2
Guru
: “ Anak-anak Bapak punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan, Pak Guru akan
melukiskan suatu benda. Siapa yang mengetahui benda yang Pak Guru maksudkan,
segera acungkan tangan!”
Siswa
: Siap, Pak Guru!”
Guru
: “Bagus!” Dengarkan, di sana
ada sebuah tempat berair. Bentuknya memanjang dan berliku-liku. Air dari sana diperlukan oleh
petani. Di dalamnya kadang-kadang banyak ikan. Silakan terka, apa nama tempat
itu!”
Siswa: “ Sungai!”
Tebakan 3
Guru
: “ Anak-anak Ibu punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan, dengan seksama, nanti
kalau ada yang tau jawabannya langsung acungkan tangan dan langsung jawab,
kalian mengerti?”
Siswa : “ Mengerti, Bu Guru!”
Guru
: “Bagus! Dengarkan, ada sejenis burung yang indah. Jenis burung ini suka
menari. Bila menari, ekornya seperti kipas. Jenis burung ini sukar didapat.
Silakan terka, Burung itu namanya!”
Siswa :“ Merak!”
Agar pembelajaran menjadi lebih
menyenangkan, sehingga materi juga cepat tersampaikan pada siswa, maka banyak
modifikasi yang dapat dilakukan guru utuk permaina tebak-tebakan ini. Misalnya,
untuk menebak benda atau sesuatu yang ditulis guru di beakang papan tulis,
secara bergantian siswa mengajukan pertanyaan yang hanya dijawab dengan “ya”
atau “tidak” oleh guru. Sebaiknya jumlah pertanyaan yang diajukan siswa tidak
boleh lebih dari dua puluh buah. Setelah itu, siswa diminta untuk menebak benda
yang dimaksudkan guru dengan cara meresume jawaban pertanyaan yang telah
diaujukan. Agar pembelajaran semakin menarik, bagilah kelas ke dalam beberapa
kelompok.
Contoh:
Guru menulis nama binatang,
misalnya ayam, di belakang papan tulis.
Guru : “Saya telah menuliskan nama benda di belakang papan
tulis. Ajukan paling banyak dua puluh pertanyaan yang akan pak guru jawab
dengan ya atau tidak/bukan. Silakan regu I bertanya dulu.
Regu I : “Benda mati?”
Guru : “Bukan. Regu II”
Regu II : “Nama binatang”
Guru : “Ya!”
Regu I : “Binatang itu berkaki empat.”
Guru : “Tidak”
Regu II : “Berkaki dua.”
Guru :“Ya.”
Regu I : “Binatang itu bersayap?”
Guru : “Ya”
Setelah dua puluh pertanyaan oleh
regu I dan regu II, guru menyilahkan setiap regu menebak nama binatang itu,
misalnya :
Regu I : “Dari jawaban yang kami peroleh, benda itu termasuk
binatang berkaki dua, bersayap, berparuh, dagingnya biasa dimakan orang, maka
binatang yang dimaksud adalah itik.”
Regu II : “Jawaban yang kami peroleh menyatakan bahwa benda yang
dimaksud adalah nakhluk hidup, sejenis binatang, bersayap, berparuh, tidak
dapat terbang jauh, dagingnya biasa dimakan orang. Kami berkesimpoulkan
binatang itu adalah ayam”
Guru (membalikkan
papan tulis): “Baik, mari kita lihat siapa pemenangnya!”