Jun 27, 2013

Masa Lalu dalam Kardus

Aku dulu sangat menyayanginya. Pertemuan kami singkat. Tiga hari kenal, kami langsung menjadi kekasih. Namanya Faris. Tampangnya lumayan. Orangnya loyal. Sehari setelah jadian, kami jalan-jalan ke mall, dan langsung dihadiahi sebuah sandal. Sifatnya juga perhatian, tapi lama-lama jadi pengekangan. Kadang aku menyebutnya otoriter.
Kami sering keliling Mataram. Tiga bulan jalan, perasaan mulai jenuh. Apalagi saat dia meninggalkanku liburan ke Bandung. Meski pulangnya ia membawa oleh-oleh. Sebuah baju kaos darbost bergambar beruang merah. Ada juga serim lembaran origami kecil warna-warni yang disusun melingkar. Faris tahu kalau aku suka menulis. Tidak hanya itu, ia menyematkanku sebuah cincin stainless yang kalau digabungkan bertuliskan Hook Up Heart.
Beberapa bulan berlalu, kami jalani dengan serius. Sampai, di akhir bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 5 September 2010, aku ulang tahun. Sebuah hadiah berupa sendal merk Sophie. Wah, lumayan menghemat keperluan lebaran.
Setahun lebih kami menjalin hubungan, sampai akhirnya mulai renggang. Di awal Februari, aku mendapat mata kuliah PPL (Praktik mengajar) selama 5 bulan. Aku PPL di SD Meninting, jalan menuju Pantai Sengigi. Tempatnya jauh dari rumahku, hingga aku tinggal di rumah keluargaku yang di Meninting. Dia tak pernah mencariku. Alasannya karena jauh. Padahal, dulu dia sering ke Senggigi.
Di sekolah itu, aku mengenal seorang guru yang gombalnya minta ampun. Gila. Meski dia tahu aku mempunyai Faris, tetap saja dia mengincarku, malah ngotot dijadikan yang kedua. Orangnya super nekat. Aku juga sebenarnya membutuhkan jasanya, karena selama PPL aku membutuhkan banyak data. Lambat laun kami dekat. Jujur, aku masih tetap menunggu Faris. Sampai akhirnya, tiba-tiba dia datang ke rumah dan melihat isi pesan di ponselku. Tragis, ada sms orang gila itu yang membuatnya marah. Ia tak sudi mendengar penjelasanku. Kami akhirnya break.
Segala hal bersama Faris menjadi kenangan. Biarlah yang manis dikenang dan pahit akan dibuang. Terutama barang-barangnya masih kusimpan dan kupakai. Sampai, tiba waktunya untuk hilang sendiri. Waktu itu, aku dan orang gila itu pergi ke kampus. Tak sengaja, sendal pemberian Faris putus. Dengan malunya, aku menunggu orang gila merekatnya dengan lem. Meski sudah erat, sendal sebelahnya putus lagi. Akhirnya sendal itu benar-benar tak bisa dipakai lagi. Selang beberapa waktu, aku mampir di rumah teman kuliahku karena kehujanan. Kebetulan, kukenakan baju darbost bergambar beruang merah. Esoknya, kulihat baju itu penuh titik-titik hitam karena lembab. Aku pun membungkusnya, hendak membuangnya di kali. Saat keluar kamar beberapa lembar kertas origami tercecer. Kagetnya, liukan kertas pemberian Faris itu kini menjadi lembaran-lembaran. Adikku merobeknya, lalu menuliskan nominal uang dari seribu sampai sepuluh ribu. Baru ia bagikan kepada teman-temannya. Hanya tersisa selingkar cincin di jari tengahku. Aku perhatikan dengan seksama. Cincin itu sudah memerah. Aku melepasnya. Lalu kutenggelamkan di lubang samping rumah, yang ditutupi air hujan. Hujan, ya saat itu hujan berderai. Bersama derai hujan semua kegersangan itu berlalu. Hilang lenyap semua tentang Faris.


Semua berubah. Hari-hariku bersama orang gila yang kini benar-benar kugilai. Ia menggantikan Faris dengan sekardus barangnya. Memberiku cinta seluas tanpa batas. Menjagaku selebih pandangannya. Kami hanya berharap. Tuhan, bersama lelaki gila yang kugilai ini, hamba bisa mereguk bahagia dengan rahmat dan anugerahMu. Bimbing kami menuju jalan Cinta-Mu.

Mengawali Langkah Sangguru

Bismillaah...
Bukannya sok alim, tapi setidaknya ada keberkahan nantinya seusai membaca isi blog ini. Sepertinya kita mesti menyepakati satu hal deh. SangGuru.com tak akan bertele-tele dan tidak berani menggurui. Hanya saja membagi pengalaman hidup yang dianggap sepele. Semoga apapun yang ditulis bisa dijadikan pelajaran ya. Mari kita sepakati perjanjian SangGuru. Kami, dengan ini menyepakati bahwa:
  1. Tidak ada unsur pengguruan dan penjajahan ketika membaca blog, hanya unsur saling suka tanpa iseng.
  2. Wajib sebaiknya mengucap bismillah sebelum membaca dan alhamdulillah setelah dibaca karena ditakutkan keracunan setelah membaca blog ini.
  3. Akan dibaca dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mengingat mahalnya biaya internetan dan hematnya baterai.
  4. Menyepakati hal berikut: “Kita sepakat hidup itu indah jika: setiap gambar adalah lukisan, setiap gerak adalah tari, setiap suara adalah musik, maka setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah”.

Ya, sudah mulai enak dah bacanya.
Kisah ini saya awali saat membuka diary saya sewaktu SMP. Waduh, resmi sekali kalau bilang saya. Zei aja ya enaknya...

Foto-foto diary ini adalah contoh dari beberapa diary yang masih awet. Sedari kelas enam SD sampe sekarang. Bayangkan, 13 tahun yang lalu masih tersimpan rapi. Sekarang ini saya agak enggan membacanya, buan karena tulisannya jelek, tapi isinya norak Wah, kebayang deh, zaman dulu sangat norak. Hehehe. Belajar menulis tanpa ada pegangan. Tulisannya rata-rata berisi patah hati... Ceila, satu hal yang bisa saya tanggap, sekaligus sebagai kontemplasi, dulu saya mengadu pada diary, jauh dari Allah, Penciptaku. Wah, berarti dulu aku suka mengeluh. Ada hal yang lebih parah lagi. Aku sengaja membuat tulisan sandi untuk tulisan yang benar-benar rahasia. Eh, malah sekarang aku tidak bisa membacanya. Kontemplasi yang bisa kupetik, aku tidak konsisten dan berburu nafsu, sehingga lupa bagaimana cara membacanya.

Dulu aku juga orangnya puitis, tapi sekarang malah realistis, langsung berbahasa sesuai realita, tanpa mengolah menjadi lebih indah. So simple. Aku suka menulis puisi, bahkan nama orangpun aku jadikan puisi. Puisi zaman SMP karakternya cinta dan kebanggaan.

Semenjak SMA, aku lebih serius, tapi sedikit catatan yang kutulis. Malah hampir dibilang tak ada. Owh, SMAku lenyap begitu saja. Hanya, beberapa foto yang menyiratkan masa-masa SMA itu. Hahaha, jadi kelihatan culunnya.

Aku sempat kehilangan beberapa memory tentang masa-masa SMA. Habisnya, SMA tidak seseru SMP. Di SMP menyerukan sekali. Ingatku dulu aku mempunyai genk, namanya NEXAT Group. Hahaha, kalau ada group-group gitu kayak mau kasidahan saja. Ada juga genk Tama. Tahu Mania. Konon, mereka suka memborong tahu isi di kantin. Bahkan, kalau belum puas, mereka membelinya sampai di warung persimpangan yang lumayan jauh dari sekolah. Gaya alay anak zaman dulu sudah pintar berbahasa dengan banyak istilah. Salahnya, dulu kami sudah mengenal istilah nyimenk. Tapi eits, cimenk ala kami itu buah jeruk yang kecil-kecil super kecut. Enaknya dimakan sama orang ngidam lalu dicelupkan di garam. Jadilah cimenk asam asin. Lain lagi ulah salah satu personil genk Tama yang ikut arisan dengan teman-teman sekelas. Setelah dia dapat undian, untuk seterusnya dia gak mau bayar. Terpaksa pas giliran namaku keluar di lot, aku mengubernya sampai lantai 2 bangunan lab di belakang sekolahku yang angker. Terakhir ketemu, dia menjadi orang hebat.
Di masa SMA, aku kayaknya lebih serius dan tegang. Maklum, SMA Favorit tidak terlalu banyak jam kosong yang bisa digunakan main-main. Ingatku, aku ikut remush (meski sebentar), eksis di PMR, dan LKIR. Wah, aktif di akademik ya. Tapi ujung-ujungnya di raport selalu saja peringkatku berkisar antara 10-20. MEMALUKAN.

Selepas SMA, aku masuk di salah satu PTN terekenal. Yah, meski nomor satu hanya di NTB. Di seluruh Indonesia entah keberapa puluh. Aku bangga. Lumayan murah dan ringan. Jadi, aku mengisi waktu kuliah dengan ikut organisasi, mulai dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), LPM (Lembaga Pers Mahasiswa). Lumayan kan, daripada lumanyun!!!

Aku juga bisa kerja sambilan kuliah. Yah, meski menjadi juru ketik dan penjaga rental di samping kosku. Akhir semester aku mencoba-caba menjadi penyiar radio. Hanya bertahan beberapa bulan. Hehehe. Gak betah bercuap-cuap. Enaknya menulis, lalu dapat uang. Aku jadi pemburu lomba esai dan cerpen. Banyak lho, karyaku. Tapi untuk konsumsi pribadi saja. Nah, sambilan tuh aku juga bekerja menjadi wanita panggilan (HARAP JANGAN NEGATIF THINGKING). Wanita panggilan adalah sebuah profesi mulia yang dipanggil ke setiap rumah untuk mengajari anak-anak. Ribet ya! Padahal simplenya guru private. Hmmmmm...

Akhir kulaih, aku tak sempat jadi pengangguran. Langsung magang di SD terkenal mewah di Mataram. Tapi Cuma satu semester. DI akhir pembagian raport aku langsung keluar. Masalah besar telah terjadi. ANTARA KEKEJAMAN DAN KEKELIRUAN. Biarlah, Maha Eksekutor Tertinggi yang akan Menghakimi.


Tak terbayangkan hikmah yang aku dapatkan dengan buah kesabaran ini. Mendapatkan sekolah yang lebih baik 180° dari yang dulu. Salerynya juga sangat berperikemanusiaan. Waktunya melebihi kemakmuran para pekerja. Alhamdulillah wasyukurillah yang sebesar-besarnya. Mengapa Allah menghadiahiku tempat yang semulia itu? Mungkin, aku hanya meminta pertolongan hanya kepadaNya. Aku juga tak mendendam dengan apa yang di sekolah yang dulu. Aku juga berusaha sendiri untuk mencari sesuai dengan pilihanku. Yang terpenting, orang tuaku selalu mendoakanku dan mendukung setipa keputusan yang kuambil. Barakallahu...


Jun 14, 2013

My Design

Bismillaah.
Bermula dari seirama bayangan dalam figura warna. Semua akan lebih indah jika kita mengembalikan keindahan ini pada Maha Indah. Siapa yang berani membantah setiap derai nikmatNya? Aku lebih tertarik menulis berdasarkan apa yang kita butuhkan untuk selalu mengingatNya. ALhamdulillah...




 Belajar menulis lagi, tapi harus banyak membaca juga, agar tulisan kita tidak terkesan bohong, tidak hambar, dan juga tidak bolong.